Kenyataan pahit yang paling ditakuti oleh publik sepak bola Surakarta akhirnya benar-benar terjadi.
Klub kebanggaan warga Solo Raya, Persis Solo, resmi dinyatakan terdegradasi dan harus turun kasta ke Liga 2 musim depan setelah melewati malam penuh drama di pekan ke-34 Super League 2025/2026.
Ironisnya, kepastian turun kasta ini harus diterima Laskar Sambernyawa justru di saat mereka sukses mengunci kemenangan telak 3-1 atas Persita Tangerang di Banten International Stadium.
Kemenangan tersebut berakhir sia-sia lantaran di pertandingan lain, pesaing terdekat mereka, Madura United, berhasil menjinakkan PSM Makassar dengan skor 2-0.
Meski Persis Solo dan PSM Makassar sama-sama mengoleksi 34 poin di klasemen akhir, Persis dinyatakan kalah dalam regulasi head-to-head sehingga terlempar ke zona merah.
Protes Menggema di Nobar Manahan, Suporter Tuntut Benahi Manajemen
Ribuan suporter yang memadati area nonton bareng (nobar) di Stadion Manahan Solo tak mampu membendung rasa kecewa.
Begitu peluit panjang di laga lain berakhir, nyanyian bernada kecaman dan tuntutan protes langsung menggema, diarahkan khusus kepada jajaran manajemen klub yang dinilai menjadi biang keladi hancurnya prestasi tim musim ini.
Salah seorang suporter, Edo, menyatakan dirinya bisa menerima kenyataan Persis bermain di Liga 2, asalkan dengan syarat mutlak adanya pembersihan total di tubuh manajemen.
“Saya sebagai suporter tetap menerima. Tidak masalah berada di Liga 2. Asalkan manajemen mau berbenah total dan tim bisa kembali lagi ke Liga 1 dalam waktu singkat, cukup satu musim saja.
Suporter sebenarnya tidak banyak menuntut. Yang penting manajemennya sehat dan bersih. Dalam pembelian pemain juga harus lebih selektif,” cetus Edo.
Edo mengkritisi langkah manajemen yang melakukan perombakan total secara radikal pada paruh musim.
Menurutnya, keputusan tersebut sangat tidak efektif karena pemain dan pelatih baru dipaksa beradaptasi kilat di saat posisi tim sudah terlanjur tertinggal jauh di papan bawah.
Kritik serupa disuarakan oleh Wildan. Ia menilai manajemen tidak pernah belajar dari rangkaian kesalahan sejak putaran pertama.
"Kekecewaan terhadap manajemen sebenarnya sudah ada sejak awal putaran musim. Tidak ada pembelajaran dari kesalahan. Memang di putaran kedua ada sedikit perbaikan, tapi semuanya sudah terlambat.
Kami ingin sepak bola yang sehat. Bahkan ada isu pembayaran lapangan yang belum diselesaikan secara jelas oleh manajemen," cecar Wildan.
DPP Pasoepati Desak Tiga Owner Buka Suara: Ada Masalah Apa?
Suasana kian memanas setelah Presiden DPP Pasoepati, Arif Djodi Purnomo, ikut meledak dan mempertanyakan transparansi internal klub.
Djodi menilai petaka degradasi ini adalah dampak nyata dari buruknya komunikasi dan adanya keretakan hubungan di antara para pemilik saham (owner) Persis Solo.
-
Komitmen Suporter yang Dikhianati: Pasoepati merasa telah memberikan dukungan total (all-out) baik materi maupun tenaga sepanjang musim, namun pengorbanan itu dibalas dengan tiket turun kasta.
-
Pecahnya Komunikasi Antar-Owner: Djodi membeberkan adanya isu disharmoni di jajaran pemilik. Selama ini, suporter hanya bisa mengakses komunikasi dengan Kaesang Pangarep, sementara dua pemilik saham utama lainnya dinilai menghilang dari tanggung jawab.
-
Kritik Manajemen Industri: Suporter menilai jajaran direksi saat ini terlalu fokus melihat Persis Solo sebagai komoditas industri semata, namun buta dan gagal total dalam mengelola urusan teknis sepak bola profesional.
-
“Jujur kami sangat kecewa dengan manajemen. Sebenarnya kurang apa lagi? Kami mengetahui ada komunikasi yang kurang baik antar-owner, tapi jangan sampai hal itu mengorbankan kecintaan suporter terhadap Persis Solo. Sebenarnya ada masalah apa di internal klub? Selama ini komunikasi hanya terjalin dengan Mas Kaesang, padahal owner Persis ada tiga orang. Yang lainnya ke mana?” tegas Arif Djodi Purnomo dengan nada kecewa.
Pihak DPP Pasoepati kini mendesak jajaran direksi dan ketiga pemilik saham untuk segera duduk bersama menggelar pertemuan terbuka guna berbicara dari hati ke hati dengan suporter.
Walau hati mereka remuk melihat tim kebanggaannya harus berlaga di kasta kedua, Djodi menggaransi bahwa loyalitas Pasoepati tidak akan pernah luntur untuk mengawal perjuangan Laskar Sambernyawa kembali naik ke kasta tertinggi.
(did)