SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Nasib Persis Solo yang semakin dekat ke jurang degradasi tak hanya menyisakan ketegangan di papan bawah klasemen, tetapi juga memunculkan refleksi tentang kerasnya struktur kompetisi sepak bola nasional.
Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, menilai situasi yang dialami Laskar Sambernyawa menjadi gambaran betapa ketatnya persaingan di Liga Indonesia.
Baca Juga: Kisah Haru di Embung Sigit Sragen, Ibu Tak Kuasa Melihat Anak Tenggelam hingga Berujung Maut
Hasil imbang 0-0 pada pekan ke-32 Super League 2025/2026 di Stadion Manahan, Sabtu (9/5/2026), membuat Persis Solo belum mampu keluar dari ancaman degradasi. Dengan dua pertandingan tersisa, posisi tim asuhan Milomir Seslija kini semakin terjepit.
Situasi Persis semakin rumit setelah Persijap Jepara berhasil mengalahkan Persita Tangerang. Hasil itu membuat Persijap mengamankan posisi mereka, sementara Persis harus berharap Madura United gagal meraih poin saat menghadapi Bhayangkara FC pada Senin (11/5/2026) agar peluang bertahan tetap terbuka.
Usai pertandingan, Bernardo Tavares ditanya mengenai situasi Persis Solo yang semakin dekat dengan zona merah. Meski menegaskan dirinya merupakan pelatih Persebaya, juru taktik asal Portugal itu menyampaikan simpati kepada tim tuan rumah.
“Seperti yang Anda bayangkan, saya adalah pelatih Persebaya. Apa yang bisa saya katakan untuk Persis Solo, untuk pemain dan staf pelatih mereka, adalah semoga beruntung untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya,” ujar Bernardo Tavares dalam konferensi pers usai laga.
Namun, tanggapan Bernardo tidak berhenti pada ucapan simpati. Ia justru menggunakan situasi Persis sebagai pintu masuk untuk menyoroti format kompetisi yang menurutnya sangat keras.
Menurut Bernardo, kompetisi di Indonesia hanya menyediakan satu ruang untuk kebahagiaan tertinggi, yakni gelar juara. Di sisi lain, tiga klub harus menerima kenyataan pahit turun kasta setiap musim.
“Kami tahu saat ini Liga Indonesia penuh drama karena hanya satu tim yang bisa juara dan tiga tim harus turun kasta,” katanya.
Pelatih berusia 45 tahun itu menilai sepak bola seharusnya tidak hanya menghadirkan tekanan dan kecemasan. Lebih dari itu, sepak bola juga perlu memberi lebih banyak peluang bagi klub untuk merasakan prestasi.
“Sepak bola harusnya membawa kebahagiaan,” tegasnya.
Karena itu, Bernardo mengusulkan agar federasi dan operator kompetisi mempertimbangkan penyelenggaraan turnamen tambahan di luar liga reguler.
Menurutnya, ajang seperti Piala Presiden atau kompetisi berbentuk Piala Liga dapat menjadi alternatif agar lebih banyak klub memiliki kesempatan mengangkat trofi.
“Mungkin perlu ada lebih banyak piala seperti Piala Presiden atau Cup League agar lebih banyak klub yang bisa memenangkan sesuatu,” ungkapnya.
Bagi Persis Solo, ucapan Bernardo menjadi refleksi bahwa kerasnya kompetisi dapat membuat satu musim penuh kerja keras berujung pada degradasi.
Baca Juga: Kasus Guru Cabul di Wonogiri Jadi Alarm, Setyo Sukarno Dorong Siswa Berani Speak Up
Nasib Laskar Sambernyawa kini tak sepenuhnya berada di tangan sendiri dan bergantung pada hasil tim pesaing di papan bawah.
Di tengah tekanan tersebut, Persis masih harus berjuang hingga pekan terakhir. Sementara itu, gagasan Bernardo Tavares membuka diskusi bahwa di balik ketatnya perebutan gelar dan ancaman degradasi, sepak bola Indonesia juga membutuhkan lebih banyak panggung agar lebih banyak klub dapat merasakan kebanggaan menjadi juara. (hj/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto