Analisis Jujur Peter de Roo Sebut Masalah Persis Solo Bukan Cuma Satu, tapi Berbeda di Tiap Laga
Mannisa Elfira• Kamis, 6 November 2025 | 22:32 WIB
Peter de Roo Pelatih Persis Solo asal Belanda.
SOLO0BALAPAN.COM – Sembilan pertandingan beruntun tanpa kemenangan.
Itulah rekor buruk yang kini menghantui Persis Solo dan membuat mereka terjerembab di zona degradasi (peringkat ke-17). Atmosfer ruang ganti pun kini terasa suram.
Kekalahan terakhir (1-2) dari Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (2/11) lalu, terasa semakin menyesakkan.
Pasalnya, jika dilihat dari statistik, Laskar Sambernyawa sebenarnya tidak bermain buruk.
Mereka unggul penguasaan bola (54%) dan bahkan menciptakan 8 peluang matang.
Lantas, apa sebenarnya "biang kerok" yang membuat Persis Solo sangat sulit meraih kemenangan?
Pelatih kepala, Peter de Roo, akhirnya buka suara. Ia membeberkan masalah fundamental yang ironisnya selalu berbeda di setiap pekannya.
Dua Masalah Berbeda dalam Dua Laga
Peter de Roo menganalisis dua kekalahan terakhir timnya yang memiliki masalah sangat kontras:
1. Lawan Persib (Kalah 0-2): Tumpul, Tak Bisa Ciptakan Peluang
Saat kalah 0-2 dari Persib Bandung (27/10), Persis Solo memang dominan menguasai bola (63%). Namun, mereka impoten di lini depan.
Statistik mencatat nol tembakan tepat sasaran (shot on goal) sepanjang 90 menit.
"Minggu lalu (lawan Persib), masalahnya adalah kita tidak menciptakan peluang," tegas Peter de Roo.
2. Lawan Persebaya (Kalah 1-2): Boros, Gagal Eksekusi Peluang
Masalah berbeda 180 derajat terjadi di Surabaya.
Melawan Persebaya, Persis justru tampil agresif dengan mencatatkan 11 tembakan dan 6 tembakan tepat sasaran, serta 8 kali menciptakan peluang matang. Namun, dari sekian banyak peluang, hanya satu yang berbuah gol.
"Kali ini (lawan Persebaya), masalahnya adalah kita tidak memanfaatkan peluang yang ada. Kita perlu mencetak gol untuk menang, kan?" lanjut Peter.
'Kalah dari Diri Sendiri'
Pelatih asal Belanda itu menyimpulkan bahwa kekalahan timnya lebih sering disebabkan oleh kesalahan internal, bukan semata karena kekuatan lawan.
"Saya rasa, pada pertandingan terakhir kita tidak kalah dengan Malut (atau Persebaya), kita hanya kalah dengan diri sendiri. Karena yang terjadi kita tidak baik dalam menjaga bola dan (memanfaatkan) pertahanan," tuturnya.
Tantangan Berat: Derby Mataram di Depan Mata
Inkonsistensi dari mandul dalam kreasi menjadi boros dalam eksekusi ini menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Peter de Roo.
Apalagi, laga berikutnya adalah pertarungan adu gengsi Derby Mataram melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Manahan, Sabtu (8/11) mendatang.
Persis Solo datang dengan mental yang terluka, sementara rival mereka, PSIM, justru sedang dalam tren positif usai meraih dua kemenangan beruntun.
"Kita harus percaya dengan kemampuan yang dimiliki pemain. Saya rasa ini masih awal musim, dan kita masih bisa bersaing,” tegas Peter, mencoba menjaga optimisme di tengah krisis. (did)