Baca Juga: Bukan Cuma Mitos Kecantikan, Ini Alasan Air Cucian Beras Bikin Muka Lembap!
Salah satunya adalah ritual Ie Gerek atau yang juga disebut Song Dongot. Ritual ini dilakukan di Batu Paus, sebuah batu yang berada di kawasan lereng Gunung Labalekan. Menurut Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Ie Gerek merupakan ritual memanggil ikan paus yang dilakukan oleh tuan tanah atau tokoh adat setempat.
Ritual tersebut menjadi bagian dari rangkaian Leva Nuang, yakni rangkaian adat sebelum masyarakat Lamalera memasuki musim melaut.
Ritual tersebut dilakukan sekitar 29 hingga 30 April, sebelum musim penangkapan paus dibuka. Dalam dokumen Pemerintah Provinsi NTT, disebutkan bahwa pada 30 April menjelang subuh, sekitar pukul 04.00 WITA, masyarakat bergerak menuju kawasan Gunung Labalekan. Di sana, ritual inti Song Dongot atau Ie Gerek dilaksanakan di atas batu yang bentuknya menyerupai ikan paus.
Meski sering disebut sebagai ritual untuk memanggil paus, makna Ie Gerek ternyata tidak sesederhana itu. Pemerintah Provinsi NTT menjelaskan bahwa ritual tersebut juga merupakan ritual memberi makan leluhur di Batu Paus sebagai bentuk ucapan syukur dan terima kasih.
Baca Juga: Alat Musik Gandrang Tidak Hanya sebagai Simbol Tradisi, tapi Cerminan Maskulinitas serta Feminimitas
Setelah ritual utama selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi sejumlah tempat persinggahan di lereng Gunung Labalekan. Masyarakat kemudian bergerak menuju Pantai Lamalera dan menceburkan diri ke laut. Pada sore harinya, dilaksanakan pula Misa Arwah yang dipimpin seorang pastor.
Ritual Ie Gerek bukanlah satu-satunya kegiatan sebelum masyarakat Lamalera mulai melaut. Rangkaian Leva Nuang juga mencakup musyawarah adat, ritual untuk para leluhur, hingga misa pembukaan musim melaut.
BPOLBF mencatat rangkaian tersebut dimulai dengan Tobu Nama Fata, yaitu musyawarah adat untuk menyelesaikan persoalan antar-suku. Setelah itu, pada 29 April dilakukan ritual Ie Gerek di Batu Paus. Kemudian pada 1 Mei digelar Misa Arwah dan Misa Leva sebagai bagian dari pembukaan musim melaut. Dalam Misa Leva, peralatan tradisional untuk menangkap paus juga mendapatkan pemberkatan.
Menariknya, masyarakat Lamalera juga tidak bisa sembarangan turun ke laut sebelum musim penangkapan resmi dibuka. Dokumen Pemerintah Provinsi NTT menyebut terdapat masa yang disebut Lefa Pnurung, ketika masyarakat tidak boleh melaut. Larangan tersebut berlangsung hingga musim kembali dibuka melalui Misa Leva pada 1 Mei.
Setelah musim dibuka, barulah aktivitas penangkapan paus dapat dilakukan. Tradisi tersebut biasanya berlangsung pada musim Lewa, sekitar Mei hingga September.
Masyarakat menggunakan peledang, yaitu perahu tradisional, dan tempuling sebagai alat tangkap. Seorang Lamafa atau juru tikam memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Paus yang ditangkap pun bukan sembarang jenis. Target utama masyarakat Lamalera adalah paus sperma atau Physeter macrocephalus yang secara lokal dikenal sebagai koteklema. Ada pula aturan adat mengenai hewan yang tidak boleh diburu. Paus biru, misalnya, disakralkan oleh masyarakat Lamalera dan tidak menjadi target perburuan. Paus yang sedang hamil juga tidak boleh ditangkap.
Tradisi ini telah diwariskan selama ratusan tahun. BPOLBF menyebut tradisi penangkapan paus Lamalera telah berusia lebih dari 500 tahun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. Di dalamnya bukan hanya terdapat aktivitas menangkap paus, tetapi juga berbagai ritual, aturan adat, pembagian peran, serta hubungan masyarakat dengan laut dan leluhur.
Karena itu, kegiatan berburu paus di Lamalera sebenarnya tidak dimulai ketika perahu sudah berada di tengah laut. Jauh sebelumnya, masyarakat telah menjalani rangkaian adat yang menghubungkan mereka dengan leluhur dan alam sekitar.
Salah satunya adalah Ie Gerek di Batu Paus. Ritual yang oleh sumber pariwisata pemerintah disebut sebagai ritual memanggil ikan paus tersebut menjadi bagian dari persiapan masyarakat sebelum memasuki musim melaut.
Jadi, di balik tradisi penangkapan paus yang selama ini dikenal dari Lamalera, ternyata ada rangkaian adat yang panjang. Para nelayan tidak begitu saja berangkat ke laut, tetapi terlebih dahulu menjalani ritual, mengikuti aturan adat, dan memohon keselamatan sebelum musim melaut dimulai.(Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Labuan Bajo Flores, BPOLBF