Makan Bersama di Jawa Ternyata Punya Cara Berbeda, Siapa yang Membawa Makanannya?

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 18:10 WIB
Hidangan yang disiapkan dan dinikmati bersama dalam tradisi masyarakat Jawa.(Wordpress)
Hidangan yang disiapkan dan dinikmati bersama dalam tradisi masyarakat Jawa.

SOLOBALAPAN.COM - Makan bersama menjadi bagian dari berbagai tradisi masyarakat Jawa. Sekilas, kegiatannya terlihat sederhana, orang berkumpul, makanan disiapkan, lalu disantap bersama. Namun, cara menghadirkan makanan dalam tradisi tersebut ternyata tidak selalu sama.

Ada kenduren, bancakan, barikan, kepungan, hingga kembul bujana. Sama-sama berkaitan dengan makan bersama, tetapi masing-masing memiliki kebiasaan yang berbeda, termasuk soal siapa yang membawa makanan.

Baca Juga: MotoGP Austria 2026 Digelar Akhir Pekan Ini, Simak Jadwal Lengkap dan Jam Tayang WIB

Kenduren

Dalam kenduren, hidangan umumnya disiapkan oleh orang yang sedang memiliki hajat. Makanan menjadi bagian dari rangkaian acara yang biasanya diawali dengan doa bersama.

Setelah doa selesai, sajian kemudian dinikmati bersama atau dibagikan kepada orang-orang yang hadir. Karena itu, makanan dalam kenduren tidak sekadar menjadi hidangan, tetapi juga bagian dari acara selamatan.

Baca Juga: Purbaya Bilang Mau Mancing Usai Dicopot, Netizen Malah Bikin Candaan: Ada yang Ajak Ngopi

Bancakan

Bancakan juga berkaitan dengan acara syukuran yang digelar oleh seseorang atau keluarga. Sajian disiapkan oleh pihak yang memiliki hajat untuk kemudian dinikmati bersama.

Hidangan yang tersedia biasanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari acara. Setelah berkumpul dan mengikuti rangkaian kegiatan, orang-orang kemudian makan bersama dari sajian yang telah disediakan.

Baca Juga: Hearts2Hearts Masuk Game Horor, Harus Kabur dari Boneka Marionette Selama 74 Menit

Barikan

Berbeda dengan tradisi yang hidangannya berpusat pada orang yang punya hajat, barikan dapat melibatkan banyak orang dalam menyiapkan makanan.

Warga yang datang bisa membawa makanan dari rumah masing-masing. Sajian tersebut kemudian dikumpulkan dan dinikmati bersama. Dengan cara seperti ini, makanan yang tersaji bukan berasal dari satu keluarga saja, melainkan hasil dari kontribusi orang-orang yang ikut dalam kegiatan.

Baca Juga: PLAVE Masuk Lineup MMA 2026 Bareng RIIZE dan NCT WISH, Kok Bisa Idol Virtual Ikut?

Kepungan

Kepungan lebih menonjolkan kegiatan makan bersama. Makanan dapat dibawa dari rumah, kemudian dikumpulkan dan ditata sebelum disantap.

Orang-orang kemudian duduk mengelilingi hidangan yang telah tersedia. Tidak ada jarak antara makanan dan orang yang menyantapnya. Semua mengambil bagian dari sajian yang sama dan makan dalam satu kesempatan.

Baca Juga: 12 Bekantan Mati Terpanggang, Ternyata Monyet Berhidung Panjang Ini Punya Perut Mirip Sapi

Kembul Bujana

Kembul bujana secara sederhana berkaitan dengan kegiatan makan bersama. Dalam praktiknya, orang-orang duduk bersama dan menikmati hidangan di satu tempat.

Pada tradisi ini, persoalan siapa yang membawa makanan bukan menjadi hal utama. Yang lebih penting adalah kegiatan berkumpul dan makan bersama dalam suasana kebersamaan.

Kelima istilah tersebut sama-sama memperlihatkan kebiasaan masyarakat Jawa dalam berkumpul melalui makanan. Namun, cara makanan disiapkan hingga disantap bisa berbeda.

Baca Juga: Mengenal Adegan Gara-Gara: Di Balik Humor Punakawan yang Memiliki Pesan Moral Mendalam

Kenduren dan bancakan lebih lekat dengan hidangan yang disediakan oleh orang yang memiliki hajat. Sementara barikan dapat melibatkan banyak orang untuk membawa makanan. Dalam kepungan, makanan dikumpulkan dan disantap bersama, sedangkan kembul bujana lebih menekankan kegiatan makan bersama itu sendiri.

Dari sini, makan bersama dalam tradisi Jawa ternyata bukan hanya soal apa yang tersaji di atas tikar atau meja. Ada cara orang membawa makanan, menatanya, lalu duduk bersama untuk menikmatinya.

Satu kegiatan bisa memiliki nama yang berbeda, tetapi ada satu hal yang tetap sama, makanan menjadi alasan untuk berkumpul dan berbagi. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra budaya jawa Tradisi Jawa makan bersama kearifan lokal