SOLOBALAPAN.COM - Kalau mendengar istilah mandi kembang, yang terlintas mungkin langsung tradisi Indonesia dengan air yang dipenuhi bunga.
Ritual ini kerap dikaitkan dengan berbagai kepercayaan, mulai dari membersihkan diri secara simbolis, membuang kesialan, menaikkan aura, sampai urusan jodoh.
Namun ternyata, kebiasaan menggunakan bunga, tumbuhan, atau air beraroma dalam ritual mandi juga ditemukan di sejumlah budaya lain. Menariknya, meski sama-sama melibatkan air dan bahan alami yang harum, maknanya tidak selalu sama.
Baca Juga: Ryul LNGSHOT Disebut ‘Indo Banget’, Kenapa Wajahnya Bikin Fans Indonesia Salah Fokus?
Dalam penelitian yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka pada 2023, mandi bunga disebut sebagai tradisi budaya yang ditemukan di Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand dan negara-negara serumpun lainnya.
Dalam masyarakat Melayu, praktik tersebut memiliki beragam fungsi dan pada beberapa tradisi dikaitkan dengan upaya meningkatkan seri pengantin, membuang nasib buruk, hingga memenuhi keinginan tertentu.
Di Indonesia sendiri, bentuknya juga tidak hanya satu. Salah satunya adalah mandi kembang yang berkembang dalam sejumlah tradisi masyarakat Jawa.
Ada pula penelitian mengenai mandi kembang di Barabai, Kalimantan Selatan, yang menunjukkan bahwa ritual tersebut pernah dikaitkan dengan kepercayaan untuk mendekatkan seseorang dengan jodohnya.
Artinya, istilah mandi kembang sebenarnya tidak selalu memiliki satu makna yang berlaku di seluruh Indonesia. Setiap daerah bisa memiliki tata cara, jenis bunga, serta tujuan yang berbeda.
Beranjak ke Thailand, penggunaan bunga dan air beraroma juga menjadi bagian dari tradisi Songkran, perayaan tahun baru Thailand. Dalam tradisi ini, air mempunyai makna penting dan digunakan dalam berbagai kegiatan penghormatan serta ritual.
Thailand Foundation menjelaskan bahwa bunga merupakan salah satu unsur penting dalam Songkran. Bunga digunakan sebagai persembahan kepada Buddha, biksu, orang yang lebih tua, maupun dalam kegiatan spiritual. Bunga juga dapat dicampurkan ke dalam air untuk menghasilkan aroma yang menyenangkan.
Salah satu tradisinya adalah penggunaan air beraroma untuk menghormati orang tua. Pada rangkaian Songkran, generasi muda dapat menyiapkan air mawar, melati, dan air beraroma Nam Ob untuk prosesi penghormatan kepada orang tua.
Jadi, kalau di Indonesia mandi kembang bisa ditemukan dalam bentuk ritual tertentu yang dilakukan kepada seseorang, di Thailand penggunaan bunga dan air beraroma dalam Songkran lebih banyak berkaitan dengan penghormatan, penyucian simbolis, serta perayaan tahun baru.
Sementara itu, Jepang memiliki tradisi mandi yang juga menggunakan bahan alami, meski bukan bunga dalam pengertian seperti mandi kembang di Indonesia.
Baca Juga: IHSG Turun, Haruskah Kita Ikut Panik? Ternyata Begini Dampaknya ke Kehidupan Sehari-hari
Salah satu yang terkenal adalah yuzu-yu, yakni kebiasaan memasukkan buah yuzu ke dalam bak mandi saat musim dingin atau tepatnya pada perayaan titik balik matahari musim dingin, Tōji.
Pemerintah Jepang menjelaskan bahwa beberapa buah yuzu dapat dimasukkan langsung ke dalam bak berisi air panas. Tradisi ini dipercaya berkaitan dengan menjaga kesehatan dan menghadapi musim dingin.
Asosiasi Pemandian Umum Tokyo juga mencatat bahwa tradisi yuzu-yu sudah dikenal sejak zaman Edo. Selain yuzu, pemandian umum di Jepang juga memiliki berbagai acara mandi dengan tumbuhan atau bahan alami tertentu, seperti shobu-yu yang menggunakan tanaman iris.
Di sinilah menariknya. Indonesia, Thailand, dan Jepang sama-sama memiliki tradisi yang mempertemukan air dengan bunga, tumbuhan, buah, atau aroma alami, tetapi alasan di baliknya bisa sangat berbeda.
Di Indonesia dan masyarakat Melayu, mandi bunga dalam sejumlah tradisi berkaitan dengan ritual, simbol keberuntungan, kecantikan, hingga persiapan pernikahan. Thailand menggunakan air dan bunga dalam rangkaian perayaan Songkran yang sarat penghormatan dan simbol penyucian.
Sementara Jepang memiliki tradisi mandi yuzu yang berkaitan dengan datangnya musim dingin dan harapan untuk menjaga kesehatan.
Jadi, mandi dengan bunga atau bahan alami ternyata bukan sekadar kebiasaan untuk membuat air terlihat cantik dan harum. Di berbagai budaya, air bisa menjadi simbol pembersihan, penghormatan, pergantian musim, hingga awal kehidupan baru.
Menariknya lagi, bentuk tradisi tersebut juga terus berkembang. Penelitian mengenai masyarakat Melayu mencatat bahwa praktik mandi bunga tradisional kini tidak lagi sepopuler sebelumnya dan sebagian telah bergeser menjadi mandi bunga yang bersifat komersial.
Karena itu, ketika melihat foto bak mandi penuh kelopak bunga atau air beraroma yang digunakan dalam sebuah ritual, belum tentu maknanya sama dengan mandi kembang yang dikenal di Indonesia.
Bahan yang digunakan mungkin terlihat mirip, tetapi cerita budaya di baliknya bisa berbeda jauh.(Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber