SOLOBALAPAN.COM – Pernah melihat seseorang mendapat perlakuan yang sama seperti yang dulu dia berikan kepada orang lain? Atau jangan-jangan kamu sendiri pernah mengalaminya?
Di media sosial, situasi seperti ini sering dirangkum dengan satu kalimat sederhana: “Karma nggak pernah salah alamat.” Seseorang yang dulu suka meremehkan orang lain, misalnya, suatu hari justru bisa berada di posisi yang sama. Begitu pula dengan orang yang pernah membuat orang lain kecewa, lalu merasakan sendiri bagaimana rasanya diperlakukan demikian.
Namun, jauh sebelum istilah karma ramai digunakan dalam percakapan sehari-hari, masyarakat Jawa sudah memiliki ungkapan yang menggambarkan gagasan serupa, yaitu “ngundhuh wohing pakarti.”
Secara harfiah, ungkapan tersebut berkaitan dengan “memetik buah dari perbuatan”. Maksudnya, setiap tindakan yang dilakukan seseorang pada akhirnya dapat menghasilkan akibat tertentu bagi dirinya.
Baca Juga: Menjaga Pakem Tari Jawa di Tengah Perubahan Zaman
Sering Bilang “Karma”, Ternyata Ada Versi Jawanya
“Ngundhuh wohing pakarti” berasal dari kata ngundhuh yang berarti memetik, wohing berkaitan dengan buah atau hasil, sedangkan pakarti berarti perbuatan atau tingkah laku.
Kalau disederhanakan, maknanya adalah seseorang akan memperoleh hasil dari perbuatannya sendiri.
Karena itu, ungkapan ini tidak hanya cocok digunakan ketika seseorang mendapatkan perlakuan buruk setelah sebelumnya melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Perbuatan baik juga memiliki “buah”.
Baca Juga: Gen Z Mulai Meninggalkan Pakem Pernikahan Serba Putih dan Lebih Berani Bikin Konsep yang Personal
Membantu orang lain, menjaga kepercayaan, bersikap jujur, atau memperlakukan orang dengan baik merupakan tindakan yang juga dapat membawa konsekuensi dalam hubungan sosial.
Jadi, ngundhuh wohing pakarti sebenarnya tidak hanya berbicara soal “karma buruk”. Ungkapan ini mengingatkan bahwa tindakan seseorang memiliki akibat, baik yang menyenangkan maupun tidak.
Jejak di Media Sosial Bisa Jadi “Buah” Perbuatan
Di zaman ketika banyak aktivitas dilakukan di media sosial, konsep tersebut terasa semakin dekat.
Satu komentar, unggahan, atau respons terhadap orang lain memang bisa terlihat sederhana. Namun, apa yang ditulis di internet dapat meninggalkan jejak dan memengaruhi bagaimana seseorang dipandang oleh orang lain.
Misalnya, seseorang terbiasa meninggalkan komentar yang merendahkan orang lain. Ketika suatu saat dirinya menjadi sasaran komentar serupa, muncul reaksi, “Kok sekarang malah dia yang marah?”
Di sinilah ungkapan ngundhuh wohing pakarti terasa relevan. Bukan berarti setiap kejadian buruk yang dialami seseorang otomatis merupakan “karma”, tetapi cara seseorang bertindak dapat memengaruhi hubungan dan respons yang diterimanya kemudian.
Baca Juga: Selikur, Selawe, sampai Sewidak, Ternyata Ada Makna di Balik Angka dalam Bahasa Jawa
Bukan Berarti Semua Hal Buruk Adalah Karma
Nah, bagian ini penting.
Ungkapan ngundhuh wohing pakarti tidak seharusnya dipakai untuk menyederhanakan semua kejadian menjadi “pasti karma”.
Tidak semua musibah, kegagalan, atau pengalaman buruk terjadi karena seseorang pernah melakukan kesalahan. Mengatakan seseorang “pantas mendapatkannya” hanya karena sedang mengalami masalah juga dapat menjadi cara yang tidak tepat dalam melihat keadaan orang lain.
Makna ungkapan ini lebih dekat dengan gagasan bahwa perbuatan memiliki konsekuensi.
Kalau seseorang terus-menerus mengingkari janji, misalnya, orang lain mungkin lama-kelamaan kehilangan kepercayaan. Kalau seseorang selalu membantu ketika orang lain membutuhkan, hubungan yang terbangun pun bisa menjadi lebih kuat.
Konsekuensinya tidak selalu datang secara dramatis seperti adegan film. Kadang “buah” dari sebuah perbuatan justru muncul dalam bentuk yang sangat sederhana.
“Buah” Itu Bisa Datang dalam Bentuk Apa Saja
Menariknya, ngundhuh wohing pakarti tidak menjanjikan bahwa hasil sebuah perbuatan akan langsung terlihat.
Seseorang bisa berbuat baik tanpa langsung mendapatkan balasan. Sebaliknya, seseorang juga mungkin melakukan kesalahan tanpa langsung merasakan akibatnya.
Namun, tindakan yang dilakukan berulang dapat membentuk kebiasaan, reputasi, sekaligus hubungan seseorang dengan lingkungan di sekitarnya.
Itulah sebabnya filosofi ini masih terasa masuk akal ketika dibawa ke kehidupan anak muda sekarang.
Di tengah budaya media sosial yang membuat orang mudah berkomentar, membagikan sesuatu, atau bereaksi secara spontan, ada baiknya sesekali berhenti sebentar dan berpikir: “Apakah aku akan menerima kalau diperlakukan hal yang sama?”
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di situlah inti ngundhuh wohing pakarti terasa. (Ina)
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Berbagai Sumber