SOLOBALAPAN.COM – Kuliah, mengejar nilai bagus, mencari pekerjaan, membangun karier, menabung, membeli sesuatu yang diinginkan, lalu mengulang semuanya. Kehidupan anak muda sekarang sering terasa seperti perlombaan untuk mencapai satu target ke target berikutnya.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berkembang. Namun, di tengah kebiasaan mengukur keberhasilan dari pencapaian pribadi, ada satu filosofi Jawa yang mengajak melihat kehidupan dari sisi lain: “urip iku urup.”
Secara harfiah, urip iku urup berarti “hidup itu menyala”. Dalam filosofi Jawa, “nyala” tersebut menjadi gambaran tentang kehidupan yang memberikan cahaya dan manfaat bagi orang lain. Dalam artikel A Comparative Study of Japanese and Javanese Philosophy juga menempatkan urip iku urup sebagai filosofi hidup yang menekankan kebermanfaatan bagi sesama.
Baca Juga: Sultan, Budak Korporat, hingga Kaum Mendang-Mending, Kok Istilah Ini Bisa Populer?
Hidup Bukan Cuma tentang Pencapaian Diri
Bayangkan seseorang yang setiap hari sibuk mengejar target. Ia ingin lulus tepat waktu, mendapatkan pekerjaan impian, punya penghasilan sendiri, atau mencapai sesuatu yang selama ini diinginkan.
Semua itu penting. Akan tetapi, urip iku urup mengingatkan bahwa makna hidup tidak berhenti pada apa yang berhasil kita dapatkan.
"Urup” atau nyala digunakan sebagai metafora bahwa kehidupan seseorang seharusnya dapat menjadi sumber cahaya dan membawa manfaat bagi sesama. Dengan kata lain, keberhasilan tidak hanya dilihat dari seberapa banyak sesuatu yang berhasil dikumpulkan untuk diri sendiri, tetapi juga dari kontribusi yang diberikan kepada lingkungan.
Jadi, seseorang tidak harus menjadi orang terkenal, punya jabatan tinggi, atau melakukan sesuatu yang luar biasa agar hidupnya dianggap berarti.
Membantu teman yang sedang kesulitan, berbagi ilmu, ikut kegiatan sosial, mendengarkan orang lain, atau sekadar hadir ketika seseorang membutuhkan dukungan juga bisa menjadi bentuk kebermanfaatan.
Baca Juga: YNTKTS hingga Gercep, Ternyata Ada Istilah “Versi Bule”-nya
Tidak Harus Selalu Jadi “Orang Berguna”
Namun, ada satu hal yang penting agar filosofi ini tidak justru berubah menjadi tekanan baru bagi anak muda.
Urip iku urup bukan berarti seseorang harus terus-menerus mengorbankan dirinya demi orang lain.
Ketika hidup di media sosial dipenuhi kalimat tentang produktivitas, pencapaian, dan menjadi versi terbaik diri sendiri, seseorang bisa saja merasa harus selalu melakukan sesuatu yang besar agar hidupnya berharga.
Padahal, hidup tidak harus selalu menghasilkan pencapaian yang bisa dipamerkan.
Ada masa ketika seseorang belajar. Ada masa ketika bekerja keras. Ada pula masa ketika seseorang hanya berusaha bertahan melewati hari yang berat.
Karena itu, menjadi “cahaya” bagi orang lain tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk besar. Bahkan, membantu satu orang, memberikan waktu untuk mendengarkan teman, atau membagikan pengetahuan yang kita miliki sudah bisa menjadi bentuk kecil dari kebermanfaatan.
Baca Juga: 7 Slang yang Dulu Hits di Internet, Kamu Pernah Pakai yang Mana?
Boleh Mengejar Impian, Jangan Lupa Sekitar
Menariknya, filosofi urip iku urup juga tidak bertentangan dengan ambisi.
Anak muda tetap boleh mengejar karier, ingin punya banyak uang, membangun bisnis, melanjutkan pendidikan, atau mengejar cita-cita lainnya. Yang berubah adalah cara melihat tujuan tersebut.
Pencapaian pribadi tidak harus menjadi akhir dari semuanya. Kemampuan dan keberhasilan yang dimiliki juga dapat digunakan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain.
Kita boleh mencari tahu apa yang membuat hidup kita bermakna, sekaligus memikirkan bagaimana keberadaan kita dapat memberikan dampak baik bagi orang lain.
Tidak Perlu Menjadi Cahaya yang Terlalu Terang
Pada akhirnya, urip iku urup tidak harus dipahami sebagai tuntutan untuk menjadi seseorang yang luar biasa.
Setiap orang punya cara berbeda untuk memberi manfaat. Ada yang melakukannya melalui pekerjaan, pendidikan, keluarga, pertemanan, komunitas, atau hal sederhana yang bahkan mungkin tidak pernah diketahui banyak orang.
Seperti nyala kecil yang tetap berguna di tengah gelap, kebaikan yang sederhana pun tetap memiliki arti.
Jadi, kalau akhir-akhir ini hidup terasa seperti perlombaan untuk mengejar pencapaian, mungkin tidak ada salahnya berhenti sebentar dan melihat ke sekitar.
Bukan hanya bertanya, “Apa yang sudah aku dapatkan?”, tetapi juga, “Apa yang bisa aku berikan?”
Sebab, dalam filosofi Jawa urip iku urup, hidup bukan hanya tentang bagaimana kita terus menyala untuk diri sendiri, tetapi juga bagaimana keberadaan kita bisa memberikan sedikit cahaya bagi kehidupan di sekitar. (Ina)
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : A Comparative Study of Japanese and Javanese Philosophy, The philosophy of life in Javanese language as an education and perspective on the life of the Javanese community