Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sultan, Budak Korporat, hingga Kaum Mendang-Mending, Kok Istilah Ini Bisa Populer?

I
Penulis: Inayah Choirunisa❯
Populer di media sosial, istilah sultan, budak korporat, dan kaum mendang-mending menunjukkan adaptasi bahasa.
Populer di media sosial, istilah sultan, budak korporat, dan kaum mendang-mending menunjukkan adaptasi bahasa.

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM – Pernah menyebut seseorang sebagai “sultan” karena baru membeli barang mahal? Atau melihat seseorang mengeluh soal pekerjaan lalu menyebut dirinya sebagai “budak korporat”? Bisa jadi kita tidak sadar bahwa bahasa sehari-hari terus melahirkan istilah baru untuk menggambarkan kebiasaan dan kondisi sosial.

Menariknya, sejumlah istilah tersebut tidak selalu berasal dari bahasa formal. Ada yang mengambil kata yang sudah dikenal, mengubah maknanya, lalu digunakan kembali untuk menggambarkan fenomena tertentu.

Istilah seperti sultan, budak korporat, hingga kaum mendang-mending menjadi contoh bagaimana bahasa berkembang mengikuti kehidupan masyarakat.

Sultan Bukan Lagi Sebatas Gelar

Kata “sultan” sebenarnya memiliki sejarah panjang dan berkaitan dengan gelar penguasa dalam tradisi Islam.

Advertisement

Namun, dalam percakapan sehari-hari di media sosial, maknanya dapat bergeser. “Sultan” sering digunakan untuk menyebut seseorang yang dianggap memiliki banyak uang atau mampu membeli sesuatu yang harganya mahal.

Ungkapan seperti “anak sultan” atau “sultan mah bebas” bahkan kerap digunakan sebagai candaan ketika seseorang terlihat memiliki gaya hidup yang dianggap mewah.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah kata dapat memperoleh makna baru ketika digunakan berulang kali dalam konteks yang berbeda.

Kata yang awalnya memiliki makna berkaitan dengan gelar kemudian digunakan secara informal untuk menggambarkan kondisi ekonomi atau gaya hidup seseorang.

Budak Korporat, Julukan untuk Kehidupan Kantoran

Berbeda dengan “sultan”, istilah “budak korporat” justru menggunakan gabungan kata yang terdengar cukup ekstrem.

Secara harfiah, kata “budak” dan “korporat” memiliki makna yang berbeda. Namun, ketika digabungkan, istilah tersebut digunakan sebagai sebutan bernada humor atau sindiran untuk pekerja yang merasa kehidupannya sangat terikat dengan pekerjaan dan tuntutan perusahaan.

Advertisement
Editor : Inayah Choirunisa

Artikel Terkait

Frugal Living Ala Anak Kos, 7 Pengeluaran Kecil yang Diam-Diam Bikin Uang Cepat Habis

Frugal Living Ala Anak Kos, 7 Pengeluaran Kecil yang Diam-Diam Bikin Uang Cepat Habis

Konsep frugal living mengajak anak kos makin bijak mengelola keuangan. Pengeluaran kecil seperti sering ngopi, jajanan murah, hingga biaya layanan aplikasi pesan antar dapat menguras tabungan tanpa disadari.

Belajar Frugal Living dari Upin-Ipin, 5 Kebiasaan Sederhana yang Masih Relevan

Belajar Frugal Living dari Upin-Ipin, 5 Kebiasaan Sederhana yang Masih Relevan

Tak hanya menghibur, Upin dan Ipin juga mengajarkan kebiasaan hidup hemat yang relevan diterapkan sehari-hari.

Awal Bulan tapi Uang Sudah Habis? Bisa Jadi 7 Kebiasaan Ini Biang Keroknya

Awal Bulan tapi Uang Sudah Habis? Bisa Jadi 7 Kebiasaan Ini Biang Keroknya

Kenaikan biaya hidup dan inflasi membuat penghasilan terasa jalan di tempat. Kombinasi small leakage, lifestyle inflation, hingga promosi belanja turut mengikis daya beli masyarakat tanpa disadari.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer