SOLOBALAPAN.COM - Biasanya, pohon harus ditebang terlebih dahulu sebelum kayunya dapat dimanfaatkan. Namun, masyarakat di Kitayama, Kyoto, Jepang, memiliki teknik berbeda. Mereka justru mempertahankan pohon induk dan memanen batang-batang yang tumbuh di atasnya.
Teknik tersebut dikenal sebagai daisugi, metode tradisional dalam budidaya cedar Kitayama yang telah berkembang selama ratusan tahun. Tradisi kehutanan Kitayama Sugi sendiri telah berlangsung sekitar 600 tahun, sejak periode Muromachi.
Baca Juga: Update RUU Perampasan Aset dari Ahmad Sahroni, Sebut Polemik Publik Bakal Tetap Terjadi
Keunikan daisugi terlihat dari bentuk pohonnya. Satu batang utama dipertahankan sebagai pangkal, kemudian tunas-tunas baru dibiarkan tumbuh dari bagian tersebut. Tunas itu tidak dibiarkan tumbuh bebas, melainkan dirawat dan dipangkas secara rutin agar tumbuh lurus ke atas.
Perawatan tersebut menjadi bagian penting dalam menghasilkan kayu berkualitas. Cabang dan tunas yang tidak diperlukan disingkirkan, dan batang dapat tumbuh panjang, lurus, dan relatif minim cabang.
Ketika batang telah memenuhi ukuran yang dibutuhkan, batang tersebut dapat dipanen tanpa menebang bagian pangkalnya. Pohon induk kemudian tetap hidup dan dapat kembali menghasilkan tunas baru.
Karena itu, satu pangkal pohon dapat menghasilkan banyak batang dalam jangka panjang. Teknik ini juga memungkinkan banyak batang tumbuh dari satu bibit, termasuk di lahan yang relatif sempit dan miring.
Bukan hanya cara panennya yang menarik. Bahan yang dihasilkan juga memiliki tujuan khusus. Kitayama sugi dikenal sebagai kayu berkualitas tinggi yang sejak dahulu digunakan untuk berbagai kebutuhan arsitektur di Jepang.
Perkembangannya tidak lepas dari budaya teh. Ketika seni minum teh berkembang, kayu Kitayama banyak digunakan untuk kebutuhan ruang teh dan bangunan bergaya sukiya. Kayu tersebut kemudian dikenal sebagai Kitayama Maruta, dengan permukaan batang yang memiliki karakter khas setelah melalui proses pengolahan.
Menariknya, tidak sembarang pohon cedar dapat digunakan untuk sistem ini. Budidaya daisugi membutuhkan jenis pohon dengan karakter pertumbuhan yang mendukung pembentukan batang yang lurus dan kokoh. Salah satu pohon induk di kawasan Kitayama bahkan diperkirakan telah berusia lebih dari 600 tahun.
Baca Juga: Apa Agama Mathis Molinie? Chef Prancis yang Mulai Go Public dengan Raisa, Terpaut Usia 3 Tahun
Dengan sistem tersebut, sebuah pohon tidak hanya dipandang sebagai sumber satu batang kayu. Pohon induk dipertahankan, sementara batang-batang baru dipanen secara bertahap sesuai kebutuhan.
Pemandangan pohon daisugi pun menjadi unik. Dari satu pangkal terlihat banyak batang ramping tumbuh tegak ke atas, menyerupai sekumpulan pohon yang berdiri di atas satu pohon.
Teknik yang telah bertahan selama berabad-abad itu menunjukkan bagaimana masyarakat Kitayama mengembangkan cara khusus untuk menghasilkan kayu berkualitas dengan memanfaatkan satu pohon secara berulang. Bukan ditebang seluruhnya, pohon justru dirawat agar terus menghasilkan batang baru.(hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber