SOLOBALAPAN.COM - Pandangan tentang kecantikan di Indonesia ternyata tidak terbentuk dalam waktu singkat. Jauh sebelum tren K-Beauty, Douyin Makeup, hingga gaya rias dari berbagai negara memenuhi media sosial, masyarakat Nusantara telah memiliki tradisi sendiri dalam merawat dan mempercantik diri.
Perjalanan tersebut turut dipengaruhi oleh perubahan sosial dan budaya. Salah satunya adalah kolonialisme yang membentuk cara masyarakat memandang kecantikan, terutama berkaitan dengan warna kulit.
Baca Juga: Sultan, Budak Korporat, hingga Kaum Mendang-Mending, Kok Istilah Ini Bisa Populer?
Pada masa kolonial Belanda, masyarakat Eropa berada di posisi teratas dalam struktur sosial. Kondisi tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap kehidupan politik dan ekonomi, tetapi juga membentuk pandangan terhadap penampilan. Kulit yang putih dan cerah kerap dipandang sebagai salah satu standar ideal kecantikan.
Pengaruh itu terlihat dari produk kecantikan yang beredar pada masa tersebut. Kosmetik untuk wajah, terutama yang berkaitan dengan warna kulit, menjadi bagian dari pasar. Produk-produk tersebut kemudian dipasarkan melalui iklan di surat kabar dengan berbagai klaim mengenai manfaatnya.
Baca Juga: Singkong Tak Hanya Jadi Makanan, Bisa Diolah Jadi Sedotan hingga Kemasan
Salah satunya adalah produk bedak yang pada dekade 1930-an dipromosikan dengan manfaat untuk membuat kulit tampak lebih halus dan putih. Produk tersebut juga dikaitkan dengan perawatan berbagai masalah pada kulit.
Setelah Indonesia memasuki masa kemerdekaan, pandangan terhadap kecantikan perlahan berubah. Kecantikan mulai dipahami tidak hanya melalui penampilan luar, tetapi juga melalui sikap, pola pikir, dan kepribadian.
Gagasan tersebut turut berkembang melalui berbagai buku dan majalah perempuan. Pembahasan mengenai tata rias mulai diarahkan pada kebutuhan perempuan Indonesia, termasuk cara memilih warna riasan yang sesuai dengan warna kulit.
Baca Juga: Upin Ipin Kayaknya Gak Bakal FOMO, 5 Kebiasaan Sederhana yang Justru Dicari Gen Z
Pengetahuan tentang kecantikan juga semakin luas. Buku-buku mengenai perawatan kulit dan resep kosmetik mulai memberikan informasi tentang cara membuat dan menggunakan produk kecantikan. Pada saat yang sama, perhatian terhadap bahan-bahan alami dan pengetahuan tradisional Nusantara mulai berkembang kembali.
Perubahan cara pandang itu berjalan bersamaan dengan berkembangnya industri kosmetik dalam negeri. Pada awal dekade 1960-an, produsen lokal mulai memproduksi dan memasarkan kosmetik kepada masyarakat Indonesia. Kehadiran produk dalam negeri turut memperlihatkan upaya untuk membangun standar kecantikan yang lebih dekat dengan karakter masing-masing.
Padahal, sebelum industri kosmetik modern berkembang, Nusantara telah memiliki tradisi tata rias yang beragam. Salah satunya adalah paes, riasan yang digunakan untuk memperindah bagian dahi dan hingga kini masih dikenal dalam sejumlah tradisi pernikahan.
Baca Juga: Nggak Cuma Buat Anak, 5 Playlist Disney Ini Bisa Jadi Teman Kerja, Belajar, hingga Tidur
Setiap daerah dapat memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa tradisi menghias wajah telah berkembang di berbagai wilayah Nusantara dengan ciri khas masing-masing.
Pada masa lalu, penggunaan riasan tertentu juga berkaitan dengan status sosial. Makeup tidak selalu digunakan oleh seluruh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kalangan bangsawan dan orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan di lingkungan istana termasuk kelompok yang lebih sering menggunakan riasan.
Meski begitu, masyarakat umum juga telah mengenal pemanfaatan bahan-bahan alami untuk merawat kulit. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga penampilan sebelum produk kosmetik modern berkembang seperti sekarang.
Memasuki masa Orde Baru, perkembangan industri kecantikan kembali mengalami perubahan. Masuknya investasi asing membuat produk kosmetik dari luar negeri semakin mudah ditemukan di Indonesia. Tren makeup pun ikut dipengaruhi oleh gaya yang berkembang secara internasional.
Pada dekade 1970-an, misalnya, riasan mata menjadi salah satu bagian yang cukup menonjol. Penggunaan eyeliner, maskara, bulu mata palsu, dan eyeshadow bernuansa pastel menjadi bagian dari gaya makeup pada masa itu.
Baca Juga: Sebelum Ada Fashion Influencer, Vogue Sudah Ramal Tren Warna Sejak 1898
Di tengah masuknya pengaruh luar, sejumlah merek kecantikan lokal juga berkembang dengan membawa unsur budaya Indonesia. Penggunaan bahan alami dan pengetahuan tradisional menjadi salah satu cara untuk memperkuat karakter produk kecantikan dalam negeri.
Tren kemudian kembali berubah pada dekade 1980-an. Gaya makeup menjadi lebih berani dengan penggunaan blush on yang lebih pekat, eyeshadow warna-warni, serta lipstik yang lebih cerah. Majalah perempuan yang semakin banyak beredar turut membuat informasi tentang tren kecantikan lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Memasuki 1990-an, pengaruh gaya rias dari Amerika Serikat semakin terlihat. Alis tipis, lip liner berwarna gelap, serta riasan mata bernuansa smoky menjadi beberapa gaya yang populer. Pertumbuhan kelas menengah juga membuat kosmetik yang lebih terjangkau semakin diminati.
Perkembangan industri tidak berhenti pada perubahan tren. Produsen kosmetik terus berinovasi untuk mengikuti kebutuhan konsumen. Bahkan ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1998, inovasi produk kecantikan tetap berkembang dan salah satunya berhasil mendapat respons positif di sejumlah negara Asia.
Baca Juga: Mencengangkan! Komisi II DPRD Solo Sidak Tahir Solo Museum, Terkuak Tunggakan PBB Tembus Rp600 Juta
Dari masa kolonial hingga sekarang, standar kecantikan di Indonesia terus berubah. Pandangan mengenai kulit putih yang pernah menguat pada masa kolonial kemudian berhadapan kembali dengan identitas dan kekayaan budaya lokal yang dikenali kembali.
Di tengah tren kecantikan dari berbagai negara saat ini, perhatian terhadap akar kecantikan Nusantara pun kembali muncul. Riasan tradisional, bahan-bahan alami, hingga pengetahuan perawatan tubuh yang diwariskan dari generasi sebelumnya juga kembali muncul.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa makeup bukan sekadar persoalan mempercantik wajah. Di balik perubahan warna, bentuk, dan teknik rias, terdapat cerita tentang bagaimana masyarakat Indonesia memandang kecantikan dan membentuk identitasnya dari masa ke masa. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber