Mengenal PATH, Kota Bawah Tanah yang Tersembunyi di Bawah Toronto

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 18:54 WIB
Di bawah jalanan Toronto, ternyata ada jaringan pejalan kaki sepanjang lebih dari 30 kilometer. Dari stasiun hingga pusat perbelanjaan, semuanya bisa terhubung lewat PATH. (Pinterest)
Di bawah jalanan Toronto, ternyata ada jaringan pejalan kaki sepanjang lebih dari 30 kilometer. Dari stasiun hingga pusat perbelanjaan, semuanya bisa terhubung lewat PATH. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Ketika berjalan di pusat kota Toronto, Kanada, orang mungkin akan melihat gedung-gedung tinggi, jalanan yang ramai, hingga salah satu menara paling ikonik di negara tersebut, CN Tower. Namun, di balik kehidupan kota yang berlangsung di permukaan, Toronto juga memiliki dunia lain yang tersembunyi di bawahnya.

Dunia tersebut dikenal dengan nama PATH.

Baca Juga: Antwerpen-Centraal, “Katedral Kereta Api” Belgia

PATH bukanlah kota bawah tanah dalam arti sebenarnya. Tidak ada rumah-rumah penduduk atau kawasan kota yang seluruh kehidupannya berlangsung jauh di bawah permukaan.

PATH merupakan jaringan jalur pejalan kaki yang sebagian besar berada di bawah tanah dan menghubungkan berbagai bangunan di pusat kota Toronto.

Jaringan ini membentang lebih dari 30 kilometer dan dipenuhi restoran, pertokoan, layanan, hingga fasilitas hiburan.

Baca Juga: Compare Culture: Ketika Generasi Digital Mengukur Hidup Melalui Layar Orang Lain

Bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya, mungkin sulit membayangkan bagaimana sebuah jalur pejalan kaki bisa memiliki panjang puluhan kilometer.

Namun, PATH memang bukan sekadar satu terowongan panjang. Jaringan ini terdiri dari berbagai koridor dan jalur yang menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya, menciptakan semacam dunia tersendiri di bawah kawasan pusat kota.

Menurut City of Toronto, lebih dari 75 bangunan terhubung dengan jaringan PATH. Jalur ini juga memberikan akses ke enam stasiun kereta bawah tanah, sembilan hotel, tiga department store, serta Union Station, salah satu pusat transportasi tersibuk di Toronto.

Bahkan, beberapa tempat populer seperti Hockey Hall of Fame, Roy Thomson Hall, Scotiabank Arena, dan CF Toronto Eaton Centre dapat diakses melalui jaringan tersebut.

Itulah yang membuat pengalaman berjalan di PATH terasa berbeda dari sekadar melewati lorong bawah tanah biasa.

Seseorang dapat berpindah dari gedung perkantoran menuju pusat perbelanjaan, mencari makan, menuju hotel, atau melanjutkan perjalanan ke transportasi umum tanpa harus selalu keluar ke jalanan.

Keberadaan PATH juga sangat berkaitan dengan kondisi cuaca Toronto. Kota tersebut mengalami musim dingin dengan suhu rendah dan salju, sementara musim panas juga dapat terasa panas.

Jalur bawah tanah ini memberikan ruang bagi pejalan kaki untuk tetap berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan perlindungan dari kondisi cuaca di luar.

City of Toronto secara khusus menyebut PATH sebagai tempat yang membantu pejalan kaki menghindari dinginnya musim dingin, salju, maupun panas pada musim panas.

Namun, PATH tidak dibangun sekaligus dalam bentuk seperti yang dikenal sekarang. Sejarahnya justru dimulai lebih dari satu abad lalu.

Menurut catatan City of Toronto, jalur bawah tanah pertama yang kemudian menjadi bagian dari perkembangan PATH sudah muncul pada tahun 1900.

Saat itu, perusahaan T. Eaton Co. menghubungkan toko utamanya di 178 Yonge Street dengan bangunan annex melalui terowongan. Pada 1917, sudah terdapat lima terowongan di kawasan pusat kota Toronto.

Perkembangan berikutnya terjadi ketika Union Station dibuka pada 1927. Sebuah terowongan kemudian dibangun untuk menghubungkan stasiun tersebut dengan Royal York Hotel, yang kini dikenal sebagai Fairmont Royal York.

Namun, pertumbuhan besar jaringan ini baru mulai terjadi pada 1970-an ketika berbagai bangunan di pusat kota mulai dihubungkan melalui jalur pejalan kaki.

Seiring waktu, jaringan tersebut berkembang secara bertahap. Menariknya, setiap bagian PATH tidak sepenuhnya dimiliki oleh satu pihak.

City of Toronto menjelaskan bahwa masing-masing bagian jalur berada di bawah kepemilikan atau pengelolaan pemilik properti tempat jalur tersebut melintas. Sekitar 35 perusahaan terlibat dalam sistem ini, sementara pemerintah kota berperan dalam mengoordinasikan penunjuk arah, peta, dan identitas PATH.

Karena terdiri dari begitu banyak bangunan dan koridor, mencari arah di dalam PATH bisa menjadi tantangan tersendiri. Untuk membantu pejalan kaki, sistem penunjuk arahnya menggunakan warna yang mewakili empat arah mata angin.

Warna biru menunjukkan arah utara, merah untuk selatan, kuning untuk timur, dan oranye untuk barat. Sistem ini menjadi bagian penting untuk membantu orang tetap mengetahui arah ketika berjalan di dalam jaringan yang sebagian besar tidak memperlihatkan langit maupun jalanan kota.

PATH juga bukan sekadar fasilitas tambahan bagi wisatawan. Jaringan tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di pusat kota Toronto.

Menurut data City of Toronto, PATH digunakan oleh lebih dari 200.000 komuter pada hari kerja, selain wisatawan dan penduduk yang menggunakannya untuk berpindah ke berbagai tujuan.

Di dalam jaringan ini terdapat sekitar 1.200 restoran, toko, dan layanan dengan total ruang ritel sekitar 3,7 juta kaki persegi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa PATH telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai sekadar jalur penghubung antarbangunan.

Bahkan, seseorang secara teori dapat berjalan melalui jaringan PATH dari kawasan tepi laut menuju Downtown Yonge atau berpindah dari Entertainment District menuju Yonge Street tanpa harus terus-menerus berada di luar ruangan. Semua jalur tersebut terhubung melalui kawasan pusat bisnis Toronto.

Mungkin itulah alasan PATH sering terasa seperti sebuah “kota” yang tersembunyi. Di bawah jalanan Toronto, terdapat jaringan koridor yang dipenuhi orang-orang yang berangkat kerja, mencari makan, berbelanja, menuju stasiun, atau sekadar berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya.

Dari luar, Toronto mungkin terlihat seperti kota metropolitan pada umumnya. Namun, beberapa meter di bawah jalanannya, terdapat dunia lain yang telah berkembang selama lebih dari satu abad.

Dan bagi orang yang pertama kali memasuki PATH, mungkin pengalaman paling menariknya adalah menyadari bahwa di bawah kota yang sibuk tersebut, ternyata ada jaringan sepanjang puluhan kilometer yang memungkinkan seseorang terus berjalan, berpindah gedung, bahkan berbelanja tanpa benar-benar harus kembali ke jalanan. (Luthfiana Sekar) 

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar canada toronto path