Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Giethoorn, Desa Belanda yang Lebih Banyak Memakai Perahu daripada Mobil

Kabun TriyatnoL
Di Giethoorn, kanal bukan cuma pemandangan. Air menjadi bagian dari kehidupan desa, sementara perahu, sepeda, dan jalan kaki menjadi cara untuk menjelajahi permukiman yang terkenal tenang ini. (Pinterest)
Di Giethoorn, kanal bukan cuma pemandangan. Air menjadi bagian dari kehidupan desa, sementara perahu, sepeda, dan jalan kaki menjadi cara untuk menjelajahi permukiman yang terkenal tenang ini. (Pinterest)

Advertisement

SOLOBALAPAN.COM - Di banyak tempat, jalan raya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mobil digunakan untuk pergi bekerja, mengantar anak ke sekolah, berbelanja, hingga mengunjungi tetangga.

Namun, ada sebuah desa di Belanda yang memiliki pemandangan berbeda.

Di Giethoorn, kendaraan bermotor bukanlah satu-satunya cara untuk berpindah tempat. Desa yang berada di Provinsi Overijssel ini terkenal dengan kanal-kanalnya yang membelah permukiman, jembatan-jembatan kecil, serta rumah-rumah tradisional yang berdiri di sepanjang tepian air.

Advertisement

Karena karakter tersebut, Giethoorn sering mendapat julukan Venice of the Netherlands atau “Venesia dari Belanda”. Meski begitu, menyebut Giethoorn sebagai desa yang sama sekali tidak memiliki jalan atau mobil sebenarnya kurang tepat.

Jalan dan kendaraan bermotor tetap dapat ditemukan di beberapa bagian desa, terutama di kawasan luar permukiman tua.

Yang membuat Giethoorn unik adalah kawasan pusat desa yang lebih banyak mengandalkan kanal, jembatan, jalan setapak, dan jalur sepeda dibandingkan jalan raya untuk kendaraan.

Advertisement

Keunikan Giethoorn tidak muncul begitu saja. Desa ini memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan air sejak awal perkembangannya.

Giethoorn didirikan oleh kelompok Flagellants, sebuah komunitas yang datang ke wilayah tersebut sekitar abad ke-13. Mereka kemudian mengembangkan permukiman di kawasan yang memiliki banyak rawa dan saluran air.

Penggalian kanal serta saluran air menjadi bagian dari perkembangan desa. Lingkungan alam tersebut kemudian ikut menentukan bagaimana Giethoorn dibangun.

Alih-alih berkembang dengan jaringan jalan besar seperti banyak permukiman modern, rumah-rumah di kawasan lama Giethoorn tumbuh mengikuti kanal dan jalur air. Jembatan-jembatan kecil kemudian digunakan untuk menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya.

Advertisement
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber

Artikel Terkait

Chefchaouen, Kota Biru yang Hampir Seluruh Bangunannya Berwarna Biru

Chefchaouen, Kota Biru yang Hampir Seluruh Bangunannya Berwarna Biru

Chefchaouen di Maroko dikenal sebagai Kota Biru karena medinanya dipenuhi bangunan dengan berbagai gradasi biru. Di balik tampilannya yang unik, terdapat sejarah dan teori tentang asal-usul warna tersebut.

Waverley Station, Stasiun di Lembah Tengah Kota Edinburgh

Waverley Station, Stasiun di Lembah Tengah Kota Edinburgh

Waverley Station merupakan stasiun utama Edinburgh yang berdiri di lembah antara Old Town dan New Town. Lokasinya yang unik membuat jalur kereta seolah tersembunyi di tengah pusat kota.

Mengenal PATH, Kota Bawah Tanah yang Tersembunyi di Bawah Toronto

Mengenal PATH, Kota Bawah Tanah yang Tersembunyi di Bawah Toronto

Di bawah pusat kota Toronto terdapat PATH, jaringan jalur pejalan kaki yang membentang lebih dari 30 kilometer. Menghubungkan puluhan bangunan, stasiun, toko, hingga tempat hiburan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer