SOLOBALAPAN.COM - Alarm berbunyi. Tangan meraba ponsel tanpa membuka mata, lalu satu sentuhan mengubah bunyi yang mengganggu menjadi lima menit tambahan.
Lima menit kemudian alarm kembali berbunyi.
Tombol Snooze ditekan lagi.
Begitu seterusnya, sampai lima menit yang awalnya terasa kecil berubah menjadi puluhan menit yang hilang.
Kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi bagi banyak orang, pagi memang dimulai dengan sebuah negosiasi yaitu antara keinginan untuk tetap berada di bawah selimut dan tuntutan untuk segera menjalani hari.
Baca Juga: Mandela Effect: Satu Kesalahan, Ribuan Orang Mengingatnya Dengan Cara Yang Sama
Kita sering menyebut orang yang sulit bangun sebagai pemalas.
Seolah-olah persoalannya hanya kurang disiplin atau terlalu nyaman dengan tempat tidur.
Padahal, tidak selalu sesederhana itu.
Di tengah rutinitas yang padat, perjalanan panjang, pekerjaan yang menumpuk, hingga kebiasaan tidur larut karena masih menatap layar, tubuh bisa saja memang belum mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Dalam kondisi seperti itu, tombol snooze bukan sekadar tanda kemalasan.
Ia bisa menjadi bentuk kecil dari tubuh yang sedang meminta tambahan waktu.
Namun, ada sesuatu yang menarik dari kebiasaan menekan snooze.
Kita sebenarnya tahu bahwa lima menit tambahan tidak akan menyelesaikan persoalan.
Pekerjaan tetap menunggu, kelas tetap dimulai, kendaraan tetap harus dikejar, dan kewajiban tetap berada di tempatnya.
Kita hanya menunda pertemuan dengan semua itu. Seakan-akan ada harapan bahwa setelah lima menit berlalu, kita akan menjadi lebih siap menghadapi hari.
Sayangnya, sering kali yang bertambah hanya rasa panik karena waktu semakin sedikit.
Baca Juga: Dari London ke Como 1907! Trevoh Chalobah Pamit dari Chelsea Usai Hampir 2 Dekade Mengabdi
Mungkin karena itu snooze tidak hanya berbicara tentang tidur. Ia juga mencerminkan kebiasaan manusia modern dalam menghadapi sesuatu yang tidak ingin segera dijalani.
Kita menunda bangun, menunda membalas pesan, menunda pekerjaan, menunda mengambil keputusan, bahkan menunda beristirahat karena merasa masih ada yang harus diselesaikan.
“Nanti saja” menjadi kalimat yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam mengatur banyak bagian dalam kehidupan kita.
Lima menit menjadi satu jam, satu hari menjadi satu minggu, dan sesuatu yang seharusnya diselesaikan justru semakin berat karena terlalu lama ditunda.
Di sisi lain, masyarakat juga sering mengagungkan pagi sebagai simbol produktivitas.
Bangun lebih awal dianggap sebagai tanda disiplin, sementara tidur lebih lama kerap dicurigai sebagai kemalasan.
Kita melihat berbagai rutinitas pagi di media sosial: olahraga sebelum matahari terbit, membaca buku, membuat jurnal, menyiapkan sarapan, hingga bekerja sejak pagi.
Semua terlihat begitu teratur. Tetapi tidak semua orang memiliki ritme kehidupan yang sama.
Ada yang bekerja malam, memiliki perjalanan panjang, atau menghadapi jadwal yang membuat waktu tidur menjadi tidak ideal. Karena itu, produktivitas seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa pagi seseorang membuka mata, tetapi juga dari apakah ia memiliki cukup waktu untuk memulihkan tubuh dan pikirannya.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu cepat menyalahkan tombol snooze.
Yang lebih penting adalah bertanya mengapa kita begitu ingin menekannya. Apakah karena benar-benar masih mengantuk, karena kurang tidur, atau karena kita belum siap menghadapi hari yang terasa terlalu berat?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memaksa diri bangun ketika tubuh terus meminta istirahat.
Sebab disiplin bukan berarti selalu melawan tubuh, tetapi juga mampu memahami kapan tubuh membutuhkan jeda dan kapan kita memang harus bergerak.
Barangkali itulah alasan mengapa kalimat "Lima menit lagi" terasa begitu akrab. Ia bukan hanya tentang kasur dan alarm, tetapi tentang keinginan manusia untuk memiliki sedikit waktu sebelum kembali berhadapan dengan kenyataan.
Namun, lima menit tidak akan pernah cukup jika yang kita butuhkan sebenarnya adalah istirahat yang layak.
Dan jika setiap pagi dimulai dengan keinginan untuk menunda, mungkin yang perlu diperbaiki bukan alarmnya, melainkan cara kita menjalani malam sebelumnya.
Sebab bisa jadi, kita bukan terlalu malas untuk bangun. Kita hanya terlalu lelah untuk memulai hari. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto