Food Waste di Indonesia: Kebiasaan Sepele yang Berdampak Besar

Rahma Azra Calista • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 18:18 WIB
Sisa makanan masih menjadi penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Kebiasaan sederhana, seperti mengecek isi kulkas dan membeli bahan makanan sesuai kebutuhan, dapat membantu mengurangi food waste. (AI Generated)
Sisa makanan masih menjadi penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Kebiasaan sederhana, seperti mengecek isi kulkas dan membeli bahan makanan sesuai kebutuhan, dapat membantu mengurangi food waste. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah membuka kulkas lalu menemukan sayuran yang sudah layu atau buah yang terlanjur busuk? Mau dimasak rasanya sudah tidak mungkin, akhirnya dibuang begitu saja.

Atau mungkin pernah mengambil nasi dan lauk terlalu banyak saat makan prasmanan karena semuanya terlihat enak, tetapi justru tidak habis.

Kejadian seperti ini mungkin terdengar biasa. Namun, tanpa disadari, hal-hal sederhana itulah yang menjadi bagian dari food waste atau makanan terbuang.

Baca Juga: Tanaman Ini Cocok bagi Pemula yang Ingin Belajar Hidroponik

Istilah food waste mengacu pada makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi, tetapi akhirnya dibuang di tingkat rumah tangga, restoran, maupun toko.

Berbeda dengan food loss yang terjadi selama proses produksi atau distribusi, food waste lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan kita sebagai konsumen.

Persoalan ini masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dikutip Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan food loss dan food waste di Indonesia mencapai 23-48 juta ton setiap tahun.

Baca Juga: Istilah "Orang Have" Viral di Media Sosial, Apa Makna di Baliknya?

Jika dihitung per orang, jumlahnya sekitar 115-184 kilogram per tahun. Kerugian ekonominya pun tidak sedikit, diperkirakan mencapai Rp 213-551 triliun.

Besarnya angka tersebut sejalan dengan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).

Sisa makanan masih menjadi penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Ini berarti, sebagian besar sampah yang kita hasilkan setiap hari berasal dari makanan yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan.

Baca Juga: Ariel Tatum Rayakan Ulang Tahun Kucing Adopsinya, Galang Donasi untuk Kucing Jalanan

Yang menjadi ironi, di saat jutaan ton makanan berakhir di tempat sampah setiap tahun, masih banyak masyarakat yang belum bisa memenuhi kebutuhan pangan secara layak.

Gambaran tersebut juga terlihat dalam penelitian berjudul “Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional: Analisis Pendorong Food Waste di Tingkat Rumah Tangga”.

Penelitian terhadap 257 rumah tangga di Kota Depok itu menemukan bahwa perencanaan saat berbelanja menjadi salah satu faktor yang memengaruhi timbulnya food waste.

Baca Juga: Cita Rasa yang Terjaga: Gablok, Warisan Kuliner Khas Bumi Sukowati

Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana, seperti membuat daftar belanja dan membeli sesuai kebutuhan, dapat membantu mengurangi makanan yang berakhir di tempat sampah.

Contoh lainnya adalah memasak dalam jumlah berlebihan. Nasi atau lauk yang masih layak dimakan sering kali dibiarkan begitu saja karena keesokan harinya memilih membeli makanan baru. Beberapa hari kemudian makanan itu basi dan tidak lagi bisa dikonsumsi.

Padahal, sepiring nasi yang kita makan setiap hari tidak datang begitu saja. Ada petani yang menanam padi selama berbulan-bulan, air yang digunakan untuk mengairi sawah, pupuk, proses panen, penggilingan, hingga distribusi sebelum beras sampai ke rumah.

Baca Juga: Cuaca Panas Bisa Bikin Tanaman Hidroponik Stres, Ini Cara Merawatnya

Setelah itu, masih ada listrik atau gas yang digunakan untuk memasaknya. Ketika nasi dibuang, bukan hanya makanannya yang hilang, tetapi juga seluruh sumber daya dan kerja keras yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan makanan tersebut.

Dampaknya pun tidak berhenti pada bertambahnya jumlah sampah. Sisa makanan yang menumpuk di tempat pemrosesan akhir akan membusuk dan menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa food waste menyumbang sekitar 8–10 persen emisi gas rumah kaca global.

Baca Juga: Sering Mendengar Blending atau Touch Up? Kenali 7 Istilah dalam Dunia Makeup

Angka ini menunjukkan bahwa mengurangi makanan yang terbuang juga menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga lingkungan.

Untungnya, mengurangi food waste tidak sesulit yang dibayangkan. Langkah kecil bisa dimulai dari rumah. Sebelum berbelanja, cobalah mengecek isi kulkas lebih dulu agar tidak membeli bahan yang sebenarnya masih tersedia.

Saat makan prasmanan, ambil makanan secukupnya dan tambah jika memang masih lapar. Sisa lauk yang masih layak dimakan pun bisa diolah kembali menjadi menu lain, sehingga tidak langsung berakhir di tempat sampah.

Baca Juga: Di Balik Promosi Meyakinkan, Kenali Modus Penipuan Berkedok Investasi

Pada akhirnya, mengurangi food waste bukan berarti harus hidup serba hemat atau tidak boleh menikmati makanan. Yang terpenting adalah membiasakan diri mengambil dan membeli makanan sesuai kebutuhan.

Dengan cara sederhana itu, kita bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga ikut menghargai kerja keras para petani, menjaga sumber daya alam, dan mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, tetapi kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari bisa membawa perubahan yang lebih besar.

Editor : Adi Pras
Lingkungan Hidup Food Waste Konsumsi Bijak pangan edukasi