Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Bayu Skak Garap FOUFO, Film Komedi Sci-Fi Alien Jatuh di Madura

tim solobalapan • Rabu, 10 Juni 2026 | 13:05 WIB
Podcast Bayu Skak dengan Tretan Muslim mengenai film FOUFO (Dok. YouTube @skakstudios)
Podcast Bayu Skak dengan Tretan Muslim mengenai film FOUFO (Dok. YouTube @skakstudios)

SOLOBALAPAN.COM - Salah satu fakta paling menarik dari "FOUFO" adalah statusnya sebagai film fiksi ilmiah pertama yang disutradarai Bayu Skak.

Selama ini Bayu dikenal sebagai sineas yang konsisten mengangkat budaya Jawa Timur melalui komedi dan drama keluarga.

Melalui FOUFO, ia mengambil langkah berani dengan memasuki genre yang masih jarang digarap oleh perfilman Indonesia, yaitu science fiction.

Ide film ini lahir dari pertanyaan sederhana yang kemudian berkembang menjadi konsep besar.

Bayu Skak membayangkan bagaimana jadinya jika seekor alien jatuh di Madura dan bertemu dengan keluarga Madura. Dari gagasan tersebut lahirlah sebuah cerita yang memadukan unsur budaya lokal dengan petualangan luar angkasa.

Berbeda dengan film sci-fi pada umumnya, FOUFO tidak menempatkan ilmuwan, laboratorium rahasia, atau pasukan militer sebagai pusat cerita.

Sebaliknya, tokoh utamanya adalah seorang pengepul barang rongsokan yang hidup sederhana dan berjuang membantu keluarganya. Pendekatan ini membuat film terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Meski mengusung genre baru, Bayu tetap mempertahankan ciri khas yang selama ini melekat pada karya-karyanya.

Bahasa daerah, nilai kekeluargaan, humor lokal, dan kehidupan masyarakat akar rumput tetap menjadi fondasi utama cerita. Elemen-elemen tersebut kemudian dipadukan dengan kehadiran alien dan teknologi luar angkasa.

Baca Juga: Nikita Mirzani Ngaku Tetap Kantongi Ratusan Juta Rupiah dari Balik Penjara, Ini Sumber Penghasilannya Selama Ditahan

Dalam beberapa kesempatan promosi, Bayu menyebut FOUFO sebagai film "komedi science fiction".

Istilah tersebut menunjukkan bahwa unsur komedi tetap menjadi kekuatan utama film. Kehadiran alien bukan dimaksudkan untuk menghadirkan ancaman global, melainkan sebagai pemicu berbagai situasi lucu dan menyentuh.

Pilihan ini membuat FOUFO tampil berbeda dibanding banyak film sci-fi internasional.

Jika film-film Hollywood sering menampilkan invasi alien atau perang antargalaksi, FOUFO justru berfokus pada hubungan persahabatan antara manusia biasa dan makhluk luar angkasa yang membutuhkan pertolongan.

Eksperimen genre ini juga menjadi tantangan baru bagi Bayu Skak sebagai sutradara. Untuk pertama kalinya ia harus menggabungkan adegan live action dengan karakter alien digital yang memerlukan efek visual khusus.

Proses produksi tentu menjadi lebih kompleks dibanding film-film komedi realistis yang sebelumnya pernah ia garap.

Dari sisi industri, kehadiran FOUFO juga menunjukkan bahwa genre science fiction memiliki potensi untuk berkembang di Indonesia.

Film ini membuktikan bahwa cerita fiksi ilmiah tidak harus meniru formula Barat. Unsur sci-fi dapat dikombinasikan dengan budaya lokal dan tetap terasa menarik bagi penonton nasional.

Yang membuat eksperimen ini semakin menarik adalah keberanian Bayu membawa identitas Madura ke dalam dunia yang biasanya identik dengan teknologi futuristik.

Bahasa Madura, tradisi keluarga, dan persoalan ekonomi masyarakat justru menjadi elemen penting yang membangun cerita, bukan sekadar latar pelengkap.

Baca Juga: Buka Peluang Magang ke Jepang, Universitas Duta Bangsa Surakarta Gelar 'Japan Pathway' dan Jalin Kerja Sama MoA dengan JACCES

Pada akhirnya, FOUFO bukan hanya film tentang alien yang terdampar di bumi. Film ini menjadi penanda transformasi Bayu Skak sebagai sineas yang berani keluar dari zona nyamannya dan mengeksplorasi genre baru.

Melalui perpaduan budaya lokal dan science fiction, FOUFO menghadirkan warna segar yang berpotensi membuka kemungkinan baru bagi perfilman Indonesia. (ags)

Editor : Laila Zakiya
#film sci-fi #FOUFO #bayu skak