SOLOBALAPAN.COM - Film "402: Rumah Sakit Angker Korea" menghadapi tantangan besar bahkan sebelum proses syuting dimulai.
Tim produksi tidak dapat menggunakan lokasi asli Gonjiam Psychiatric Hospital yang menjadi inspirasi cerita karena bangunan tersebut sudah lama ditutup dan dibongkar.
Kondisi tersebut memaksa tim mencari lokasi baru di Korea Selatan yang mampu menghadirkan suasana serupa. Pencarian lokasi menjadi salah satu tahap penting karena rumah sakit tersebut akan menjadi pusat seluruh teror dalam film.
Proses pencarian tidak berlangsung mudah. Tim membutuhkan bangunan yang memiliki kesan terbengkalai, mendukung kebutuhan teknis produksi, serta tetap aman digunakan oleh pemain dan kru selama proses syuting berlangsung.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, tim akhirnya menemukan lokasi pengganti yang kemudian diubah menjadi rumah sakit fiktif bernama Yeongwon Hospital. Lokasi inilah yang menjadi latar utama cerita dalam versi Indonesia.
Menariknya, keputusan menggunakan lokasi baru membuat film tidak sekadar meniru Gonjiam: Haunted Asylum. Sebaliknya, tim produksi memiliki kesempatan untuk membangun identitas dan mitologi horor yang berbeda.
Sutradara Anggy Umbara dan tim kreatif kemudian mengembangkan berbagai area rumah sakit, mulai dari koridor, ruang perawatan, hingga ruangan-ruangan yang menjadi sumber kemunculan teror dalam film.
Tantangan berikutnya datang dari departemen artistik. Mereka harus menciptakan kesan bahwa Yeongwon Hospital memiliki sejarah kelam dan menyimpan misteri yang dapat dirasakan penonton sepanjang film.
Pemilihan lokasi juga harus disesuaikan dengan konsep syuting 360 derajat yang menjadi ciri khas produksi 402. Tidak semua bangunan mampu mendukung penggunaan puluhan kamera yang merekam secara bersamaan.
Baca Juga: Adaptasi Gonjiam, Film 402 Rumah Sakit Angker Korea Lakukan Syuting Langsung di Yeongwon Hospital
Karena itu, tim tidak hanya mencari lokasi yang menyeramkan, tetapi juga bangunan yang memungkinkan pergerakan pemain dan pemasangan kamera berjalan dengan efektif selama proses produksi.
Ironisnya, film yang terinspirasi dari legenda Gonjiam justru dibuat tanpa menggunakan lokasi Gonjiam itu sendiri.
Namun keterbatasan tersebut berhasil diubah menjadi peluang untuk menghadirkan Yeongwon Hospital sebagai ikon horor baru dalam versi Indonesia. (ags)
Editor : Laila Zakiya