SOLOBALAPAN.COM - Proses produksi film 402: Rumah Sakit Angker Korea menyimpan cerita unik yang tidak banyak ditemukan dalam film horor Indonesia. Di balik penggunaan teknologi canggih dan lokasi syuting di Korea Selatan, terdapat pengalaman spiritual yang menarik perhatian publik.
Sutradara Anggy Umbara mengungkap bahwa tim produksi sempat menemui seorang shaman atau mudang Korea sebelum proses pengambilan gambar dimulai. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan kepercayaan lokal.
Menurut beberapa sumber, ritual tersebut bukan bagian dari kebutuhan cerita film. Tujuannya lebih kepada meminta kelancaran selama proses produksi berlangsung di negeri orang.
Perjalanan menuju lokasi ritual pun tidak sederhana. Tim produksi harus melewati kawasan pegunungan, hutan, hingga area pemakaman sebelum bertemu dengan figur spiritual tersebut.
Dalam budaya Korea Selatan, mudang merupakan sosok yang dipercaya menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia roh. Praktik ini masih dikenal luas meski Korea Selatan telah berkembang sebagai negara modern.
Kepercayaan terhadap ritual tradisional seperti ini masih ditemukan dalam berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari membuka usaha hingga menentukan momen penting dalam kehidupan.
Baca Juga: Viral Kepergok Ciuman Sesama Jenis di PNJ, Ayah Mahasiswa Ini Sampai Sujud Ikhlaskan Anaknya Di-DO
Kehadiran mudang dalam proses produksi film juga berkaitan dengan latar cerita yang mengangkat legenda rumah sakit angker Korea. Kisah tersebut berasal dari popularitas film Gonjiam: Haunted Asylum yang terkenal dengan nuansa mistis dan urban legend-nya.
Meski lokasi asli Gonjiam sudah tidak digunakan, atmosfer cerita tetap dipertahankan melalui lokasi pengganti di Korea Selatan. Hal itu membuat sebagian kru merasa lebih nyaman ketika produksi diawali dengan ritual tradisional.
Fakta ini menunjukkan bahwa 402: Rumah Sakit Angker Korea tidak hanya mengadaptasi cerita dari Korea, tetapi juga berinteraksi langsung dengan unsur budaya setempat selama proses produksi berlangsung.
Di tengah sorotan terhadap penggunaan 28 kamera dan teknik syuting 360 derajat, kisah pertemuan kru Indonesia dengan mudang Korea menjadi salah satu cerita di balik layar yang paling menarik dan memberi warna tersendiri bagi produksi film horor tersebut. (ags)
Editor : Laila Zakiya