SOLOBALAPAN.COM - Film The Chronicles of Narnia: The Magician’s Nephew menjadi salah satu proyek fantasi paling ambisius yang tengah dipersiapkan Netflix.
Bahkan, sebelum dirilis, film garapan Greta Gerwig ini sudah ramai dibicarakan karena disebut-sebut memiliki biaya produksi luar biasa besar.
Sejumlah laporan industri menyebut proyek tersebut berpotensi menjadi salah satu film termahal yang pernah dibuat oleh Netflix.
Meski angka resminya belum diumumkan, berbagai laporan hiburan memperkirakan biaya produksi film berada di kisaran US$200 juta hingga US$320 juta.
Jika benar, angka tersebut membuat "The Magician’s Nephew" masuk jajaran blockbuster modern dengan biaya produksi tertinggi, bahkan mendekati atau menyamai proyek raksasa Hollywood lain yang penuh efek visual.
Spekulasi biaya fantastis itu semakin ramai setelah jurnalis industri hiburan Matthew Belloni menyebut proyek ini kemungkinan menjadi “the most expensive movie Netflix has ever made” atau setidaknya salah satu yang paling mahal.
Komentar tersebut membuat banyak pengamat langsung membandingkannya dengan The Electric State yang sebelumnya dilaporkan memiliki biaya sekitar US$320 juta.
Salah satu alasan utama mengapa film ini diperkirakan begitu mahal adalah skala dunia fantasi yang hendak dibangun. The Magician’s Nephew bukan hanya petualangan fantasi biasa, melainkan kisah asal-usul dunia Narnia yang memperlihatkan penciptaan semesta magis tersebut.
Penonton diperkirakan akan melihat lokasi-lokasi besar seperti Wood Between the Worlds, kerajaan Charn, dunia antar-dimensi, hingga momen kosmik kelahiran Narnia yang membutuhkan pembangunan lingkungan digital berskala masif.
Skala visual tersebut tentu berimbas langsung pada kebutuhan efek visual atau VFX. Dunia Narnia dipenuhi makhluk fantastis, lanskap imajinatif, serta efek magis yang sulit diwujudkan tanpa teknologi CGI kelas blockbuster.
Karena itu, banyak pengamat percaya sebagian besar biaya produksi tersedot untuk pembangunan dunia digital dan creature effects yang kompleks.
Produksi film juga berlangsung dalam skala besar dengan penggunaan beberapa fasilitas studio sekaligus. Proses syuting diketahui memakai lokasi seperti Shepperton Studios, Longcross Studios, dan Cardington Studios, ditambah sejumlah lokasi nyata di wilayah London, Manchester, hingga Bradford.
Penggunaan banyak studio selama berbulan-bulan membuat biaya logistik, pembangunan set, serta operasional kru meningkat signifikan.
Selain itu, film disebut menggunakan tim efek visual tingkat atas, termasuk supervisor VFX pemenang penghargaan dan vendor pascaproduksi berskala besar.
Dalam proyek fantasy modern, penggunaan beberapa vendor efek visual biasanya dilakukan agar pengerjaan ratusan hingga ribuan shot CGI dapat selesai tepat waktu, terutama bila film menargetkan skala sinematik besar.
Menariknya, skala biaya produksi yang sangat besar diyakini ikut memengaruhi strategi distribusi film. Tidak seperti kebanyakan proyek Netflix lain yang langsung masuk layanan streaming,
The Magician’s Nephew kabarnya akan mendapatkan perilisan bioskop global luas sebelum tersedia di platform digital.
Dengan skala fantasi masif, biaya produksi yang diduga mencapai ratusan juta dolar, serta ambisi membangun waralaba lintas generasi, "The Chronicles of Narnia: The Magician’s Nephew" tampaknya sedang diposisikan sebagai lebih dari sekadar film streaming biasa. Netflix disebut berharap proyek ini bisa menjadi fenomena budaya baru. (ags)
Editor : Laila Zakiya