SOLOBALAPAN.COM - Gak ada yang lebih horor daripada sadar kalau orang yang paling disayang adalah orang yang paling nggak bisa dimilikin karena “tembok” yang nggak kasat mata.
Di saat lagi nyaman nyamannya skateboarding di Manahan atau sekadar deep talk di koridor Gatsu, lagu Mangu tiba tiba muter di Spotify dan langsung bikin mood terjun bebas.
Ari Lesmana gak cuma nulis lirik, ia seperti sedang membuka luka anak muda yang pernah terjebak dalam fenomena beda agama – hubungan yang terasa sangat mungkin secara perasaan, tapi mustahil secara realitas. Bukan soal kurang cinta, tapi terlalu banyak hal yang tidak bisa dipaksa.
Lagu Mangu sendiri dalam bahasa Jawa berarti bingung, termenung, atau terdiam karena tidak tahu harus melangkah ke mana.
Dan memang, itulah posisi paling menyiksa dalam hubungan yaitu bukan ditolak, tapi juga tidak bisa diperjuangkan sepenuhnya.
Ada rasa sayang yang nyata, tapi di depannya berdiri hal-hal besar seperti perbedaan keyakinan, restu keluarga, masa depan yang tidak sejalan, atau bahkan status sosial yang diam-diam jadi tembok paling sunyi.
Baca Juga: Sertifikat Mualafnya Dicabut, Bagaimana Nasib Agama dr. Richard Lee?
Karakter lagu fourtwenty tidak meledak-ledak seperti lagu patah hati kebanyakan. Justru terasa pelan, tenang, dan itu yang membuatnya lebih sakit. Karena patah hati paling berat memang bukan yang penuh drama, tapi yang harus diterima dengan diam.
Peristiwa ini sangat relate dengan anak muda hari ini. Di tengah budaya pacaran modern yang terlihat bebas, nyatanya banyak hubungan masih kandas karena persoalan klasik seperti beda prinsip dan beda arah hidup.
Di kota seperti Solo, tempat banyak hubungan tumbuh dari tongkrongan kampus, komunitas, atau obrolan panjang di angkringan malam, cerita seperti ini terasa sangat dekat.
Awalnya hanya teman diskusi, lalu jadi nyaman, kemudian dengan cepat memutuskan menjalani hubungan meskipun hati termangu karna perbedaan.
Hal ini menurut Pakar Psikolog sering disebut sebagai emotional limbo yaitu fase ketika seseorang terjebak dalam hubungan yang tidak jelas arahnya, tetapi terlalu sulit untuk dilepaskan.
Secara emosional, kondisi ini jauh lebih melelahkan daripada putus secara terang-terangan. Karena yang habis bukan hanya waktu, tapi juga harapan. Mangu menjadi soundtrack dari fase itu.
Terkadang yang dibutuhkan saat patah hati bukan nasihat motivasi, tapi validasi bahwa rasa bingung itu manusiawi. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya