SOLOBALAPAN.COM - Di tangan Gen Z, makna sebuah lagu bisa berubah jauh dari konteks awalnya. Hal inilah yang terjadi pada Film Favorit milik Sheila on 7.
Jika dulu identik dengan kisah cinta dan upaya mengejar seseorang, kini lagu tersebut justru menjelma menjadi soundtrack baru bagi mereka yang sedang mengejar mimpi.
Fenomena ini terlihat di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Lagu Film Favorit kerap digunakan dalam konten studygram, work vlog, hingga video bertema produktivitas. Visualnya sederhana yaitu meja belajar, laptop menyala, kopi yang mulai dingin, dan seseorang yang duduk mengerjakan sesuatu.
“Bukan lagi tentang dia, tapi tentang versi diri yang ingin kita kejar.”
Perubahan makna ini menunjukkan bagaimana Gen Z mempraktekkan konsep manifestasi dalam keseharian.
Lagu tidak lagi sekadar didengar, tetapi dijadikan alat untuk membangun suasana, memperkuat fokus, dan bahkan memprogram semangat.
Baca Juga: Lebih Hemat dari BeAT, Honda Punya Skutik yang Iritnya Pol-polan! Seliter Beneran Bisa Tempuh 75 Km?
Dalam konteks ini, Film Favorit menjadi semacam latar cerita bagi kehidupan nyata. Seolah olah setiap orang sedang menjadi tokoh utama dalam filmnya sendiri dengan segala konflik, kegagalan, dan harapan akan plot twist yang lebih baik.
Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa generasi muda saat ini semakin aktif dalam pendidikan dan dunia kerja, dengan tekanan untuk terus berkembang dan beradaptasi. Kondisi ini membuat pendekatan seperti manifestasi menjadi populer sebagai cara menjaga motivasi.
Di sisi lain, tren ini juga dipengaruhi oleh budaya digital yang mendorong narasi personal. Setiap orang bebas membingkai hidupnya layaknya cerita, lengkap dengan soundtrack yang menyertainya.
Menariknya, lagu yang sama bisa memiliki makna yang sepenuhnya berbeda bagi generasi yang berbeda. Apa yang dulu terasa romantis, kini menjadi terasa aspiratif.
Hal ini menunjukkan bahwa karya musik bersifat hidup—ia berubah mengikuti siapa yang mendengarkan dan dalam konteks apa ia digunakan.
Namun di balik estetika konten yang rapi, fenomena ini juga menyimpan sisi lain. Tekanan untuk selalu produktif dan “on track” bisa menjadi beban tersendiri jika tidak diimbangi dengan kesadaran diri.
Meski begitu, bagi banyak Gen Z melalui lagu seperti Film Favorit adalah cara sederhana untuk memotivasi diri agar tetap bergerak. Sebuah pengingat bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, adalah bagian dari cerita yang lebih besar.
Dengan demikian, lagu ini tidak lagi sekadar tentang mengejar seseorang, tetapi tentang mengejar kemungkinan. Dan di tengah perjalanan yang penuh ketidakpastian, mungkin yang dibutuhkan hanyalah satu hal yaitu keyakinan bahwa suatu hari nanti, hidup akan memberikan plot twist terbaiknya. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya