SOLOBALAPAN.COM - Pernahkah kalian merasa sebuah kota terasa berbeda karena seseorang yang disayang kini tidak ada di sana?
Perasaan itulah yang kini banyak dirasakan oleh para Gen Z saat berkeliling kota di malam hari.
Fenomena ini semakin kuat dengan tren mendengarkan lagu Nadhif Basalamah – Kota Ini Tak Sama Tanpamu, saat melakukan Night Ride.
Aktivitas berkendara santai di malam hari sebenarnya bukan hal baru di Solo.
Namun belakangan, kebiasaan ini berubah menjadi pengalaman emosional yang lebih personal. Musik tidak lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi medium untuk merasakan kota dengan cara yang berbeda.
Menyusuri Jalan Slamet Riyadi yang ikonik di bawah temaram lampu kota kini bukan sekadar aktivitas transportasi belaka.
Dengan diiringi lagu Nadhif, setiap bangunan kolonial yang dilewati – mulai dari Loji Gandrung hingga kawasan Ngarsopuro – seolah mengingatkan kembali tentang memori memori yang pernah terjadi.
Baca Juga: Apa Penyebab Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur? Ini Kronologi Mogoknya Taksi Listrik Green SM
Lagu ini menjadi viral karena dianggap mewakili perasaan “rindu yang tak tuntas”.
Banyak anak muda merasa liriknya dekat dengan pengalaman personal tentang kehilangan, tentang seseorang yang pernah hadir, dan tentang kota yang tiba tiba terasa berbeda tanpanya.
“Genggam tanganku sayang, Kota ini tak sama tanpamu”
Potongan lagu Nadhif ramai dibagikan di TikTok dan Instagram. Konten video Night Ride dengan suasana jalanan kota Solo dan dipadukan latar lagu tersebut memperlihatkan bagaimana sudut sudut Solo yang sederhana bisa berubah menjadi sangat melankolis dan estetik.
Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa aktivitas rekreasi berbasis ruang publik di kota menengah seperti Surakarta mengalami peningkatan, terutama di kalangan usia muda. Hal ini sejalan dengan tren mencari hiburan yang sederhana namun bermakna.
Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana musik memiliki peran kuat dalam membentuk pengalaman ruang. Lagu tidak hanya didengar, tetapi juga dihayati bersamaan dengan suasana jalanan.
Rute dari Balai Kota Surakarta menuju Gladag menjadi jalur paling favorit untuk menikmati lagu ini. Jalan yang relatif lurus, lampu kota yang konsisten, serta suasana malam yang tidak terlalu ramai menciptakan pengalaman yang khas.
Suasana Solo yang terasa pelan saat di malam hari menjadikan kota ini latar yang pas untuk memaknai lirik lirik lagu Nadhif. Tidak terlalu bising, tidak juga terlalu sepi, cukup untuk memberi ruang bagi perasaan.
Fenomena Night Ride dengan iringan musik ini memperlihatkan bahwa cara menikmati kota terus berkembang. Dari sekadar bergerak, menjadi proses merasakan.
Dan di tengah semua itu, Solo malam hari memang selalu punya cara sendiri untuk membuat rindu terasa lebih dalam, pelan, dan membekas di hati. (Arp/lz)
Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta.
Editor : Laila Zakiya