SOLOBALAPAN.COM - Lee Cronin yang telah sukses besar melalui film Evil Dead Rise yang pada saat itu menjadi rekor baru, ia kembali mengangkat kisah horor yang paling ikonik sepanjang masa dari tanah padang pasir,
Dalam film terbarunya yang resmi tayang pada 15 April 2026 lalu ini, Lee Cronin’s The Mummy mengisahkan sepasang jurnalis yang kehilangan putri kecil mereka saat melakukan liputan di padang pasir.
Bagai butiran pasir gurun yang dengan mudahnya terbawa angin, jejak Katie, putri mereka pun tidak dapat ditemukan sama sekali.
8 tahun berlalu, keluarga yang belum benar-benar sembuh dari kehancuran mereka itupun dikejutkan dengan sebuah kabar melalui telepon mereka dari seorang wakil kepala kedutaan besar Amerika Serikat yang berbunyi “your daughter Katie has been found...” (putrimu, Katie, telah ditemukan).
Wakil kepala itu melanjutkan kabar yang ia perlu sampaikan “She is alive” (dia masih hidup) sambungnya.
Baca Juga: Tidak Berhenti Menjadi Media Ekspresi, Tari Berfungsi Sebagai Identitas Daerah
Kabar mendadak itu pun membuat Charlie dan Larissa Canon (orang tua Katie) lemas.
Mereka seakan tak berdaya, tak percaya, namun bersyukur dalam satu momen yang sama.
Namun setelah mendatangi Katie yang masih dalam perawatan medis, mereka dikejutkan akan kondisi putri mereka yang terlihat aneh dan tidak baik—baik saja.
Katie ditemukan pertama kalinya sedang berada di dalam sebuah sarkofagus kuno berusia 3000 tahun. Dengan keadaan Katie yang terlihat seperti kerasukan entitas asing yang menjadikan tubuh Katie sebagai inangnya.
Film yang di sutradarai langsung oleh Lee Cronin dan diproduseri oleh dua orang yeng lebih dulu dikenal melalui waralaba mereka, The Conjuring, yaitu Jason Blum dan James Wan, serta John keville mengisahkan teror yang berasal dari kutukan yang menguasai putri mereka sendiri.
Setelah dibawa pulang ke rumah mereka di Amerika serikat, Katie bertingkah lebih aneh dan ekstrem dalam melakukan terornya, salah satu yang mengerikan adalah terornya terhadap sang nenek.
Baca Juga: Coffee Shop di Solo, DPRD Soroti Pajak hingga Parkir: Pengawasan Selama Ini Dianggap Belum Optimal
Film ini tidak membawa penonton kembali mengungkit latar-latar Mesir Kuno dengan Firaun sebagai fokus utamanya, melainkan membawa aura misteri yang tersimpan dan terkubur dibawah butiran pasir gurun.
Usaha pasangan jurnalis itu untuk membuat Katie kembali normal, justru mengantarkan mereka pada kebenaran yang seharusnya tidak pernah mereka ketahui.
Lee Cronin menjadikan film ini sebagai visual dari aksi yang merusak tubuh secara mengerikan.
Distorsi tubuh yang berdarah-darah dan membuat ngilu para penonton, terasa seperti ciri khas yang dibuat Lee Cronin pada film sebelumnya, Evil Dead Rise.
Reuni keluarga yang diharapkan seluruh anggota keluarga benar-benar diluar kendali mereka.
Katie yang seharusnya mereka lindungi dan mereka sayang kembali, justru menjadi seseorang yang perlu mereka waspadai.
Baca Juga: Sudah Dibagi, Belum Berjalan: Puluhan Mobil Koperasi Desa di Wonogiri Masih Terparkir
Mimpi buruk yang berubah menjadi nyata dihadapan mata mereka, memaksa mereka harus melawan entitas yang berwujud sebagai Katie.
Para penggemar film horor pasti merasakan kebaharuan yang hadir didalam film ini, bukan lagi sekedar kepercayaan mesir kuno yang terjadi dan berlatar di sebuah lingkup piramida, namun menjekajah hingga lintas benua.
Dengan menjadikan kutukan spiritual yang tidak mungkin lagi ditaklukan melalui peperangan fisik, melainkan keyakinan, kepercayaan, dan kekuatan yang menyangkut kebatinan spirit.
Film ini membawakan aura yang mencekam, gelap, pembunuhan melalui kekuatan spirit, dan melibatkan anak dibawah umur dalam lingkup teror horor fiksi. (riz/lz)
Editor : Laila ZakiyaSumber : Solo Balapan