Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Bukan Sekadar Fiksi, Novel “Thank You Salma” Ternyata Panduan Memahami Jeritan Korban Kekerasan Seksual di Kampus

Laila Zakiya • Minggu, 19 April 2026 | 12:38 WIB
Ilustrasi tolak kekerasan seksual (Pexels.com/Oliadavilevich)
Ilustrasi tolak kekerasan seksual (Pexels.com/Oliadavilevich)

 

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah gelombang kasus kekerasan seksual yang kembali mengguncang berbagai perguruan tinggi negeri belakangan ini -seperti yang sedang terjadi di kampus terkemuka Universita Indonesia (UI)- Terkadang melalui novel kita bisa mengerti, apa yang sebenarnya dirasakan oleh korban kekerasan seksual.

Novel Thank You Salma karya Erisca Febriani, yang merupakan bagian dari trilogi Dear Nathan, muncul bukan sekadar sebagai kisah romansa remaja.

Ia bisa dikatakan sebuah “buku panduan” yang memotret bagaimana predator seksual beroperasi di balik jubah organisasi kampus dan bagaimana sistem sering kali gagal melindungi penyintas.

Berbeda dengan narasi percintaan pada umumnya, Thank You Salma menghadirkan cerita yang lebih gelap dan realistis.

Tokoh Salma digambarkan sebagai mahasiswa yang aktif dan berprestasi, namun harus berhadapan dengan pengalaman traumatis akibat kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus.

Hal yang membuat novel ini terasa dekat adalah cara ia menggambarkan bagaimana pelaku tidak selalu hadir dalam sosok yang mudah dikenali. Dalam banyak kasus, pelaku justru memiliki posisi, relasi, atau citra yang membuatnya sulit dicurigai.

Tidak semua yang terlihat baik benar benar aman.”

Baca Juga: Ratusan Calhaj Solo Berangkat 2026, Pemerintah Pastikan Situasi Timur Tengah Tak Ganggu Ibadah

Penggalan kutipan dari buku ini merefleksikan realitas yang sering terjadi, di mana relasi kuasa dalam organisasi atau lingkungan akademik dapat dimanfaatkan untuk melakukan kekerasan tanpa disadari oleh banyak orang.

Selain itu, novel ini juga menyoroti bagaimana penyintas sering kali harus menghadapi tekanan sosial setelah kejadian.

Alih alih mendapatkan dukungan, tidak sedikit korban yang justru dipertanyakan, disalahkan, atau diminta untuk diam demi menjaga nama baik institusi.

Fenomena ini sejalan dengan berbagai laporan yang menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di kampus sering kali tidak tertangani secara transparan.

Faktor seperti relasi kuasa, budaya diam, hingga minimnya sistem perlindungan menjadi tantangan tersendiri.

Dalam novel Thank You Salma, proses pemulihan juga menjadi bagian penting dari cerita. Penyintas tidak digambarkan sebagai sosok yang langsung kuat, tetapi melalui proses panjang yang penuh emosi dan pergulatan batin.

Baca Juga: Relevansi Tari Tradisional di Era Modern

Hal ini memberikan gambaran bahwa trauma bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan cepat. Dibutuhkan ruang aman, dukungan sosial, serta sistem yang berpihak pada korban.

Pada kalangan mahasiswa, buku ini mulai dibaca tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bahan refleksi.

Terutama bagi mereka yang aktif dalam organisasi, cerita ini menjadi pengingat tentang pentingnya menciptakan ruang yang aman dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, Thank You Salma tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai medium edukasi. Ia membuka ruang diskusi tentang isu yang selama ini sering dianggap sensitif atau bahkan dihindari.

Melihat bahwa kesadaran terhadap isu kekerasan seksual meningkat, kehadiran karya seperti ini menjadi penting. Sebab terkadang, untuk memahami realitas yang sulit, fiksi justru mampu berbicara lebih jujur.

Dan bagi banyak pembaca, kisah Salma bukan hanya cerita, tetapi cermin dari realitas tentang jeritan korban kekerasan seksual yang perlu diakui dan didengar. (Arp/lz)

 Artikel ini ditulis oleh Arif Sri, mahasiswa Jurusan Etnomusikologi di ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#Novel. Thank You Salma #kekerasan seksual #sinopsis #kampus