Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Belajar Idealisme Melalui Soe Hok Gie dalam Buku Catatan Seorang Demonstran

Laila Zakiya • Selasa, 14 April 2026 | 09:30 WIB
(E-lib.bawaslu.go.id)
(E-lib.bawaslu.go.id)

 

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah dinamika kehidupan kampus yang semakin kompleks, pembahasan tentang idealisme mahasiswa kembali menjadi perhatian.

Aktivitas organisasi yang padat, tuntutan akademik, hingga realitas sosial yang berubah cepat membuat banyak mahasiswa mulai mempertanyakan kembali makna dari pergerakan itu sendiri.

Salah satu rujukan yang masih sering dibaca untuk memahami hal tersebut adalah buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.

Buku ini berisi kumpulan catatan harian yang ditulis Gie semasa hidupnya, yang merekam kegelisahan, kritik sosial, hingga refleksi personal sebagai seorang mahasiswa.

Baca Juga: TENANG ITU MAHAL! Boiyen Akhirnya Blak-blakan Ungkap Alasan Ceraikan Rully Anggi

Gie tidak hanya berbicara tentang perlawanan, tetapi juga menunjukkan sisi manusiawi seorang aktivis yang sering kali dihadapkan pada dilema antara idealisme dan realitas.

Salah satu kutipan yang cukup sering dibicarakan adalah:

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua.”

Kutipan ini menggambarkan kegelisahan eksistensial yang dialami Gie sebagai individu sekaligus aktivis.

Ada keresahan yang muncul ketika melihat realitas sosial yang tidak sesuai dengan harapan.

Bagi mahasiswa hari ini, hal ini bisa menjadi cerminan bahwa kegelisahan adalah bagian dari proses berpikir dan bukan sesuatu yang harus dihindari.

Baca Juga: Antisipasi Kekeringan, Pemkab Wonogiri Siapkan Rp300 Juta untuk Dropping Air Bersih

Selain itu, Gie juga menuliskan: “Orang orang yang beruntung adalah mereka yang mampu mempertahankan idealismenya.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa idealisme bukan hal yang mudah dijaga.

Dalam perjalanan organisasi, mahasiswa sering dihadapkan pada kompromi, tekanan, hingga kepentingan tertentu.

Kutipan ini menjadi pengingat bahwa menjaga nilai adalah tantangan tersendiri dalam pergerakan.

Melalui catatan catatannya, Gie memperlihatkan bahwa menjadi aktivis tidak selalu identik dengan keramaian.

Ada proses panjang yang melibatkan perenungan, kesepian, hingga pertanyaan terhadap diri sendiri.

Baca Juga: International Rain Festival 2026 di Solo Raya Pecah! Kolaborasi Seniman Taiwan, Jepang, dan Indonesia Bikin Publik Terpukau

Hal ini menunjukkan bahwa idealisme tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman dan refleksi yang terus menerus.

Membaca kembali buku ini di kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa kebutuhan akan pemikiran kritis masih tetap ada.

Di tengah arus informasi yang cepat dan serba instan, tulisan yang bersifat reflektif justru menjadi ruang untuk berhenti sejenak lalu kembali berpikir lebih dalam.

Di sisi lain, buku ini juga mengingatkan bahwa idealisme bukan hanya soal gagasan besar, tetapi juga soal keberanian untuk bersikap.

Dalam banyak situasi, mahasiswa dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan nilai atau mengikuti arus yang ada.

Melalui Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie tidak memberikan jawaban pasti, tetapi menghadirkan pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini.

Bagi mahasiswa, membaca buku ini bukan hanya tentang mengenal tokoh, tetapi juga tentang memahami kembali posisi diri dalam melihat realitas.

Dengan demikian, idealisme yang ditawarkan dalam buku ini tidak berhenti pada masa lalu.

Ia terus hidup sebagai refleksi yang bisa dimaknai ulang oleh setiap generasi, termasuk mahasiswa hari ini yang sedang mencari arah di tengah berbagai perubahan. (rip/lz)

Editor : Laila Zakiya
#Soe Hok Gie #idealisme #demonstran #sinopsis