SOLOBALAPAN.COM - Fenomena membaca buku di kalangan anak muda menjadi signifikan di tahun ini.
Aktivitas yang dulunya identik dengan ruang sunyi seperti perpustakaan, kini justru sering ditemui di kafe, ruang publik, hingga media sosial.
Berbagai platfrom digital, tren seperti currently reading (CR), unggahan rak buku, hingga foto buku dengan latar belakang estetik menjadi semakin umum.
Fenomena ini dikenal luas sebagai bagian dari budaya bookstagram, booktok, atau konten literasi visual yang berkembang di media sosial.
Laporan dari UNESCO pada tahun 2011-2012 menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah yakni 0,001% (1 dari 1000 orang rajin membaca).
Di masa sekarang akses terhadap buku semakin meningkat, hingga masuk kedalam algoritma dan tren anak muda.
Dilansir dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam acara Panggung Penyair Nusantara XIII 2025 (13/9/2025), Joko Santoso selaku Sekretaris Umum Perpusnas menyampaikan bahwa dalam tahun ini terdapat kenaikan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) dari semula 66,77 pada tahun 2023 lalu meningkat 72,44 di tahun 2024.
Kenaikan tersebut sebagian besar didorong oleh kemudahan akses digital dan tren literasi.
Fenomena tersebut menunjukan bahwa maraknya konten di media sosial dapat meningkatkan minat baca.
Kehadiran postingan buku dalam media sosial bisa berfungsi ganda.
Di satu sisi, ia menjadi medium promosi literasi yang efektif, terutama bagi generasi muda.
Konten visual dinilai mampu menarik perhatian dan memperluas jangkauan buku ke audiens yang sebelumnya tidak dekat dengan aktivitas membaca.
Akan tetapi di sisi lain, muncul kecenderungan bahwa buku tidak hanya diposisikan sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari representasi diri.
Tampilan visual seperti desain sampul, susunan rak, ataupun suasana membaca sering kalui menjadi elemen utama dalam konten yang dibagikan.
Menurut RRW Lestari seorang peneliti media dan budaya populer dalam artikel ilmiahnya di Jurnal Desain mencatat bahwa pada ekosistem digital, estetika memiliki peran penting dalam menarik perhatian (Vol.13 No.3 (2026)).
Hal ini berdampak pada cara buku dipresepsikan yang tidak hanya sebagai isi, tetapi juga sebagai objek visual yang memiliki nilai simbolik.
Meski demikian, pegiat literasi seperti Najwa Shihab, Boy Candra, J.S Khairen menilai bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya negatif.
Kehadiran buku dalam ruang digital dianggap sebagai pintu masuk awal bagi generasi muda untuk kembali berinteraksi dengan literasi. Dari ketertarikan visual, tidak jarang berkembang menjadi kebiasaan membaca yang lebih serius.
Perubahan ini menunjukkan bahwa membaca kini tidak lagi berdiri sebagai aktivitas tunggal, melainkan bagian dari dinamika budaya yang lebih luas. Buku tidak hanya dibaca, tetapi juga dilihat, dibagikan, dan direpresentasikan.
Di tengah pergeseran tersebut, tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan minat baca. Akan tetapi, memastikan bahwa interaksi terhadap buku tidak berhenti pada tampilan, melainkan berlanjut pada pemahaman. (arp/lz)
Editor : Laila Zakiya