KLATEN, SOLOBALAPAN.COM – Selama ini peran ibu sering dianggap dominan dalam tumbuh kembang anak, terutama terkait kesehatan mental.
Namun sudut pandang itu mulai bergeser seiring meningkatnya pemahaman bahwa sosok ayah memiliki pengaruh besar dalam membangun mental anak yang kuat, stabil, dan resilien.
Penguatan peran ayah ini kembali ditegaskan oleh Dwi Kurniasih, Ketua Penyelenggara PAUD Gajah Mada Klaten.
Menurutnya, kesehatan mental anak tak hanya bertumpu pada kehadiran ibu, tetapi juga ketegasan dan bimbingan emosional dari seorang ayah.
Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa ayah memegang peran signifikan, terutama dalam menempakan mental dan emosi anak.
“Kehadiran ayah memungkinkan anak untuk melihat sosok panutan. Mampu memberikan rasa kenyamanan dan pilihan. Ketegasan ayah bukan berarti keras, melainkan mengajarkan batas dan penerimaan emosi,” ujar Nunik, sapaan akrabnya.
Ketegasan Ayah Memberi Fondasi Emosional yang Lebih Kuat
Nunik mencontohkan pola sederhana yang sering dilakukan seorang ayah ketika anak menangis.
Alih-alih terburu-buru menenangkan, seorang ayah dapat memberikan ruang:
“Kalau kamu tidak mau (melakukan sesuatu) tidak apa-apa. Ya sudah kamu boleh nangis dulu. Nanti kalau sudah selesai, kamu boleh nanti kembali.”
Menurutnya, pendekatan semacam ini membantu anak memahami bahwa tangisan bukan alat untuk menghindari tanggung jawab.
Justru ketegasan tersebut membantu menguatkan mental anak sesuai tahap tumbuh kembangnya.
“Sikap itu justru yang harus ditunjukan (ayah) kepada anak karena sesuai dengan tumbuh kembangnya sesuai usia mereka. Secara emosional dan mental, kehadiran ayah sangat penting membangun anak-anak yang tangguh karena mereka melihat sosok ayah yang juga tangguh,” tambah Nunik.
Risiko Fatherless: Dampak Serius pada Mental Anak
Nunik juga mengingatkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah atau fatherless memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah mental dan sosial.
Minimnya figur panutan membuat anak lebih rentan terhadap tekanan emosional, krisis identitas, hingga perilaku agresif.
Oleh karena itu, ia mengajak keluarga untuk tidak meremehkan kontribusi ayah dalam relasi sehari-hari, meski dilakukan dalam porsi kecil namun konsisten.
Jarak Bukan Alasan: Ayah Tetap Bisa Hadir Lewat Teknologi
Tantangan terbesar biasanya muncul ketika ayah bekerja jauh atau memiliki jadwal yang padat.
Namun Nunik menegaskan bahwa kualitas interaksi tetap bisa dibangun, kendati tidak selalu bertatap muka.
“Energi kasih sayang itu bisa dibangun walaupun jarak jauh. Kedekatan tetap dapat dibangun melalui teknologi. Ketika ayah melakukan panggilan telepon atau video call. Ada energi yang keluar melalui kata-kata dan suara yang mampu memvibrasi anak,” ujar Nunik.
Dengan komunikasi rutin, anak tetap merasakan kehadiran emosional dari ayah, sehingga hubungan mereka tetap erat.
Orang Tua Perlu Belajar Mengelola Emosi
Selain memperkuat peran ayah, Nunik menekankan pentingnya kesadaran diri pada orang tua.
Menurutnya, pola asuh yang baik berawal dari kemampuan orang tua mengendalikan emosi dan membangun budaya berkomunikasi yang positif di rumah.
Saat orang tua terpancing emosi dan tanpa sadar mengucapkan hal yang tidak pantas, langkah terbaik adalah mengakui kesalahan.
Ia menegaskan, setelah meminta maaf, orang tua perlu memberi penjelasan yang mudah dipahami anak.
“Jangan dikira anak usia dini itu tidak bisa diberi penjelasan ya, sangat bisa. Tentu dengan bahasa dan tentu dengan kalimat yang mudah diterima oleh anak-anak,” ujar Nunik. (ren/lz)
Editor : Laila Zakiya