SOLOBALAPAN.COM - Pulang kuliah menjelang malam atau baru selesai bekerja sering membuat seseorang memilih makanan yang paling mudah didapat. Akhirnya, memesan makanan secara daring, mampir ke gerai cepat saji, atau bahkan melewatkan waktu makan menjadi kebiasaan. Di tengah rutinitas yang padat, meal prep mulai dikenal sebagai cara sederhana untuk membantu menjaga pola makan tetap teratur tanpa harus memasak setiap hari.
Secara sederhana, meal prep merupakan kebiasaan menyiapkan makanan untuk beberapa hari sekaligus. Makanan dimasak dalam satu waktu, kemudian disimpan di dalam wadah dan diletakkan di kulkas agar tinggal dipanaskan saat akan dikonsumsi.
Ada pula yang memilih menyiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu, seperti memotong sayuran, membumbui ayam, atau merebus telur sehingga proses memasak di hari berikutnya menjadi lebih praktis. Misalnya, seseorang memasak beberapa lauk dan sayur pada Minggu sore, lalu membaginya ke dalam beberapa wadah sebagai bekal kuliah atau makan siang di kantor selama beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Solo Anggrek Festival 2026 Suguhkan Koleksi Bernilai Fantastis, Harga Jual Tembus Puluhan Juta
Belakangan, kebiasaan ini semakin banyak diterapkan, terutama oleh mahasiswa dan pekerja yang memiliki aktivitas padat. Setelah seharian mengikuti perkuliahan, menyelesaikan pekerjaan, atau menghadapi perjalanan pulang yang melelahkan, memasak dari awal sering kali terasa merepotkan. Tidak heran jika membeli makanan di luar atau memesan melalui aplikasi menjadi pilihan yang dianggap lebih praktis.
Padahal, kesibukan sering kali membuat pola makan ikut berubah. Dikutip dari penelitian jurnal berjudul “Pola Makan Mahasiswa Berdasarkan Healthy Eating Plate”, banyak mahasiswa memiliki pola makan yang kurang baik karena aktivitas yang padat membuat mereka lebih sering memilih makanan siap saji dan belum terbiasa menyiapkan makanan sendiri.
Penelitian terhadap 143 responden tersebut menunjukkan hanya 2,1 persen mahasiswa yang memiliki pola makan sesuai pedoman Healthy Eating Plate, sedangkan 97,9 persen lainnya masih tergolong kurang. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa konsumsi sayur, buah, dan sumber protein pada sebagian besar responden masih belum sesuai dengan anjuran.
Temuan serupa juga terlihat pada penelitian jurnal berjudul “Analisis Faktor Penghambat Pola Makan Sehat terhadap Kesehatan di Kalangan Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang”. Penelitian itu menunjukkan bahwa padatnya jadwal kuliah dan aktivitas membuat banyak mahasiswa tidak selalu memiliki waktu untuk menyiapkan makanan sehat. Selain itu, sebagian responden mengaku lebih memilih membeli makanan di luar atau melalui layanan pesan antar karena dinilai lebih cepat dan praktis.
Baca Juga: Bukan Lagi Anak, Kini Orang Tua Juga Butuh Literasi Digital
Melihat kebiasaan tersebut, meal prep dapat menjadi salah satu alternatif yang mudah diterapkan. Karena menu sudah direncanakan sejak awal, seseorang tidak perlu lagi bingung menentukan apa yang akan dimakan setiap hari atau terburu-buru mencari makanan ketika waktu makan tiba. Perencanaan sederhana ini juga dapat membantu menjaga jadwal makan lebih teratur, mempermudah memenuhi kebutuhan sayur, buah, dan sumber protein, mengurangi kebiasaan membeli makanan cepat saji secara spontan, sekaligus membantu mengontrol porsi makan.
Meski demikian, meal prep bukan berarti harus menjalani diet ketat. Masih banyak anggapan bahwa meal prep identik dengan dada ayam rebus, brokoli, atau menu yang itu-itu saja. Padahal, menu yang disiapkan bisa disesuaikan dengan kebiasaan makan masing-masing. Nasi, ayam kecap, tumis kangkung, ikan pindang, telur dadar, capcay, hingga buah potong tetap bisa menjadi pilihan selama komposisinya seimbang dan bervariasi. Dengan begitu, meal prep lebih menekankan pada kebiasaan merencanakan makanan, bukan membatasi jenis makanan yang dikonsumsi.
Pada akhirnya, meal prep bukan sekadar mengikuti tren yang ramai di media sosial. Kebiasaan ini dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mengatur waktu sekaligus membantu menjaga pola makan di tengah aktivitas yang padat. Tidak harus dimulai dengan menu yang rumit atau perlengkapan yang lengkap, cukup dengan meluangkan sedikit waktu untuk merencanakan makanan selama beberapa hari ke depan. Dengan langkah sederhana tersebut, makan sehat dapat menjadi kebiasaan yang lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Kabun Triyatno