SOLOBALAPAN, JAKARTA — Sutradara sekaligus figur publik kenamaan Reza Oktovian atau yang akrab disapa Reza Arap meluapkan kemarahannya setelah karya debut penyutradaraannya berjudul Harusnya Horror dibajak dan disebarkan secara ilegal di media sosial pada Jumat (28/8/2026).
Tak sekadar merekam dari dalam bioskop (camcording) dan menyebarkan bocoran adegan (spoiler), pihak pengunggah melalui akun media sosial X @patriarkibasi dinilai secara sadar melontarkan narasi bernada hinaan terhadap adegan sakral yang didedikasikan khusus untuk mengenang mendiang kekasihnya, Lula Lahfah.
Menyikapi pelanggaran hak cipta dan pelecehan karya tersebut, Reza Arap bersama rumah produksi Ess Jay Pictures menegaskan kesiapannya untuk melayangkan somasi serta menyeret pelaku ke jalur hukum pidana.
Somasi Akun X @patriarkibasi dan Pelecehan Adegan Sakral Mendiang Lula Lahfah
Kemarahan Reza Arap memuncak tatkala mendapati salah satu akun X, yakni @patriarkibasi, tidak hanya mengunggah rekaman ilegal film yang masih aktif tayang di layar bioskop, tetapi juga menyertakan takarir (caption) yang mengejek isi adegan serta berbangga diri atas ramainya atensi warganet.
Baca Juga: Harusnya Horror, Langkah Baru Reza Arap sebagai Sutradara
Reza menekankan bahwa adegan yang diunggah dan ditertawakan oleh akun tersebut memiliki nilai emosional yang sangat mendalam dan bersifat personal, karena terinspirasi dari kebiasaan nyata bersama mendiang Lula Lahfah semasa hidup.
Pernyataan Tegas Reza Arap: "Mengunggah spoiler dan pembajakan secara sadar, ketik caption dengan bernada hinaan secara sadar, bahkan setelahnya bilang terima kasih karena tweet-nya jadi ramai.
Saya akan menempuh jalur hukum, dan melayangkan somasi terhadap akun X @patriarkibasi. Di luar dari pembajakan, dia tertawa dan menghina tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dia tidak tahu seberapa sakral adegan yang dia unggah, dan yang saya lakukan di adegan tersebut tidak berdasarkan apapun, selain karena saya sering melakukan itu ke almarhumah Lula Lahfah."
Debut Sutradara, Karya Warisan, dan Langkah Hukum Ess Jay Pictures
Film Harusnya Horror yang telah diputar serentak di bioskop seluruh Indonesia sejak 20 Agustus 2026 merupakan tonggak penting dalam karier Reza Arap sebagai sutradara layar lebar.
Proyek sinema ini sekaligus menandai debut akting bagi seluruh anggota AAAClan, dengan didukung penampilan dari Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Malka Rafasya, serta penampilan spesial dari kreator konten Yoshua Marcellos (Cellos).
Bagi Reza, film ini bukan sekadar produk hiburan komersial, melainkan sebuah karya peninggalan (legacy) penuh penghormatan bagi almarhumah Lula Lahfah.
Pihak rumah produksi Ess Jay Pictures sebelumnya telah melayangkan peringatan keras terkait larangan merekam layar bioskop dan memastikan perlindungan hak cipta akan ditegakkan secara menyeluruh.
Sikap Reza Terkait Karya Peninggalan: "Film ini menjadi legacy dari almarhumah Lula Lahfah, jadi kalau ada pembajak yang secara sadar menyebarkan dan melakukan penghinaan, saya tidak segan-segan untuk menegur dan meminta pertanggungjawaban."
Tabel Pemetaan Fakta Kasus Pembajakan & Somasi Film Harusnya Horror
Guna memberikan pemetaan informasi mengenai kronologi pelanggaran hak cipta, materi penghinaan, serta langkah hukum yang ditempuh secara rapi, terstruktur, dan mudah dipahami, berikut adalah rangkuman datanya:
| Parameter Informasi | Detail Fakta & Catatan Kasus |
| Judul Film Layar Lebar | Harusnya Horror |
| Sutradara | Reza Oktovian (Reza Arap) (Debut Penyutradaraan) |
| Rumah Produksi | Ess Jay Pictures |
| Tanggal Rilis Bioskop | Mulai Tayang 20 Agustus 2026 |
| Akun Terduga Pelanggar | Akun X @patriarkibasi |
| Bentuk Pelanggaran | Pembajakan rekaman bioskop (camrip), spoiler, dan hinaan di media sosial |
| Aspek Emosional Karya | Didedikasikan sebagai karya legacy mengenang mendiang Lula Lahfah |
| Jajaran Pemain | Member AAAClan, Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, Cellos |
| Langkah Tindak Lanjut | Melayangkan Somasi Resmi dan Menempuh Jalur Hukum |
Langkah tegas yang diambil Reza Arap dan Ess Jay Pictures menjadi peringatan keras bagi para pengguna media sosial agar menghargai hak cipta perfilman nasional, menghentikan praktik pembajakan di dalam bioskop, serta menjaga etika bertutur di ruang digital.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo