KEMARIN JEBLOK, KENAPA IHSG HARI INI AMBRUK LAGI? BEI Terapkan Trading Halt Pagi Ini, IHSG Turun 7 Persen dari Sebelumnya!

Laila Zakiya • Dipublikasikan Kamis, 29 Januari 2026 | 10:58 WIB
Ilustrasi - BEI terapkan trading halt pagi ini usai IHSG kembali turun 7 persen dari sebelumnya.
Ilustrasi - BEI terapkan trading halt pagi ini usai IHSG kembali turun 7 persen dari sebelumnya.

SOLOBALAPAN.COM - Tekanan berat kembali menghantam pasar saham Indonesia.

Setelah sehari sebelumnya jeblok tajam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk pada perdagangan Kamis pagi, 29 Januari 2026, hingga memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt untuk hari kedua berturut-turut.

Koreksi yang terjadi bukan sekadar lanjutan teknikal, melainkan akumulasi sentimen negatif global, keputusan indeks MSCI, serta derasnya aksi jual investor asing yang membuat pasar kehilangan pijakan sejak pembukaan.

IHSG Ambles Lebih dari 7 Persen Sejak Pembukaan

Pada awal perdagangan, IHSG langsung terpukul hebat.

Dalam waktu singkat, indeks turun lebih dari 7 persen, jauh meninggalkan level psikologis 8.000. Tekanan jual terjadi merata di hampir seluruh sektor.

Data perdagangan menunjukkan dominasi saham merah di papan bursa.

Ratusan emiten mengalami penurunan harga, sementara hanya segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau.

Kapitalisasi pasar pun terkikis signifikan hingga ratusan triliun rupiah.

Beberapa saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang IHSG justru menjadi pemberat utama, mempercepat kejatuhan indeks sejak menit awal perdagangan.

BEI Kembali Berlakukan Trading Halt Pagi Ini

Seiring tekanan yang kian dalam, BEI kembali mengambil langkah penghentian sementara perdagangan.

Trading halt diberlakukan sekitar pukul 09.30 WIB setelah penurunan indeks melewati ambang batas yang ditetapkan.

"Hari ini Kamis 29 Januari 2026 perdagangan (trading halt sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09:26:01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 09:56:01 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8 persen," kata sekretaris BEI, Kautsar Primadi Nurahmad melalui keterangan tertulisnya Kamis, 29 Januari 2026.

BEI menegaskan langkah ini dilakukan untuk menjaga perdagangan saham tetap teratur, wajar, dan efisien di tengah volatilitas ekstrem yang sedang terjadi.

Sentimen MSCI Jadi Akar Tekanan Pasar

Salah satu pemicu utama ambruknya IHSG adalah sentimen negatif terkait MSCI.

Lembaga indeks global tersebut kembali menyoroti kekhawatiran investor terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.

Meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari BEI, MSCI menilai masih ada persoalan struktural yang membuat investor global bersikap lebih defensif.

Kekhawatiran ini memicu arus keluar dana asing dan aksi jual pasif oleh investor institusional global.

Situasi tersebut diperparah dengan turunnya peringkat saham Indonesia oleh lembaga keuangan global.

"Kami memperkirakan akan ada lanjutan passive selling dan menilai perkembangan ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar," tulis analis Goldman Sachs, sembari memangkas outlook Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight, dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).

Efek Domino MSCI, Investor Lokal Ikut Tertekan

Dampak keputusan MSCI tidak hanya dirasakan oleh investor institusi, tetapi juga investor ritel.

Hal ini terlihat dari kisah Andry Hakim yang ramai diperbincangkan di media sosial setelah membagikan kerugian fantastis dari portofolio sahamnya.

"Minus 60 miliar/ US$4 juta," ujarnya.

Kerugian tersebut terus bertambah seiring tekanan pasar yang kian dalam.

"Malah makin dalam, MSCI Anji*ng," ungkapnya.

Hingga akhirnya, kerugian yang ditampilkan menembus angka yang lebih mencengangkan.

"Hit target minus -100 m," tandasnya.

Kisah ini mencerminkan betapa kuatnya dampak perubahan indeks global terhadap pergerakan pasar saham domestik, terutama dalam jangka pendek.

Tekanan Global dan Ketidakpastian Masih Membayangi

Selain sentimen MSCI, pasar juga dibayangi sejumlah faktor eksternal seperti hasil rapat FOMC The Fed, pergerakan dolar AS, serta rilis data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arus modal global.

Tekanan teknikal turut memperparah kondisi. Penurunan tajam sejak pembukaan membentuk gap besar dan memicu aksi jual lanjutan, termasuk pelepasan saham otomatis akibat batas penurunan harga.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan dari otoritas pasar modal serta kejelasan sentimen global.

Selama isu MSCI dan arus dana asing belum mereda, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan rawan tekanan dalam waktu dekat. (lz)

Editor : Laila Zakiya
Sumber : Solo Balapan
viral ihsg turun MSCI penyebab bei trading halt