SOLOBALAPAN.COM – September biasanya mulai terasa seperti masa peralihan. Setelah berbulan-bulan menghadapi cuaca panas dan kemarau, sebagian orang mulai menunggu hujan datang. Apalagi kalau siang terasa terik, udara kering, dan malam masih gerah.
Namun, tahun ini masyarakat tampaknya masih harus sedikit bersabar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis di sebagian besar wilayah Indonesia.
Bahkan, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan. Lantas, kenapa musim hujan tahun ini bisa datang lebih lambat?
Baca Juga: Bukan Cuma Tambah Wawasan, Ini yang Terjadi Pada Otak Rutin Membaca!
Bukan Sekadar Karena September Masih Panas
Menurut BMKG, penyebab utamanya berkaitan dengan kondisi iklim global, terutama El Niño yang berada pada kategori sangat kuat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83. Sementara itu, nilai indeks ENSO untuk periode Juli-Agustus-September mencapai +2,63 yang menunjukkan kondisi El Niño sangat kuat.
El Niño dapat memengaruhi pola atmosfer dan curah hujan di Indonesia. Dalam kondisi tahun ini, fenomena tersebut membuat periode kering di sejumlah wilayah menjadi lebih panjang sehingga awal musim hujan ikut terdorong lebih lambat.
Baca Juga: Kenapa Batas Defisit APBN 3 Persen Mau Diubah? Ini Alasan DPR dan Risikonya
Ada Fenomena Lain yang Ikut Berpengaruh
Bukan hanya El Niño. BMKG juga memantau Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia yang berada dalam fase positif.
Pada Agustus 2026, indeks IOD tercatat +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun. BMKG menyebut kombinasi El Niño sangat kuat dan IOD positif tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Jadi, kalau belakangan terasa musim kemarau seperti belum benar-benar selesai, ada penjelasan dari sisi dinamika iklim. Bukan berarti hujan “menghilang”, melainkan pola datangnya musim hujan tahun ini diperkirakan bergeser.
Baca Juga: Andre Taulany Sempat Bilang Nikah Oktober, Ternyata Akad 20 September 2026, Mahar Jadi Penanda
Lalu, Kapan Musim Hujan Mulai?
Nah, ini bagian yang mungkin paling banyak dicari.
BMKG memprediksi musim hujan tidak akan dimulai pada waktu yang sama di seluruh Indonesia. Sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026.
Kemudian, 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan diprediksi mulai mengalami musim hujan pada Desember 2026. Artinya, November dan Desember menjadi periode penting dimulainya musim hujan di banyak wilayah.
Untuk Jawa Tengah, prediksi curah hujan BMKG menunjukkan November 2026 mulai mengalami peningkatan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Namun, waktunya tetap tidak bisa disamaratakan untuk seluruh daerah.
Khusus Kota Surakarta, misalnya, BMKG memprediksi curah hujan November 2026 masih berada dalam kategori rendah pada prakiraan bulanannya. Karena itu, masyarakat Solo dan sekitarnya tidak bisa langsung menganggap awal November sebagai tanda musim hujan sudah sepenuhnya dimulai.
Musim Hujan Mundur, Apakah Berarti Hujannya Juga Sedikit?
Belum tentu.
Ini salah satu hal yang penting dibedakan. BMKG memprediksi waktu datangnya musim hujan mundur, tetapi bukan berarti seluruh musim hujan 2026/2027 otomatis akan lebih kering.
Sebanyak 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami akumulasi curah hujan dengan sifat normal. Sementara itu, 147 ZOM atau 18,55 persen diprediksi lebih basah dari normal dan 42 ZOM atau 11,69 persen diprediksi lebih kering dari normal.
Puncak musim hujan pun diperkirakan berlangsung bertahap, mulai Desember 2026, Januari 2027, hingga Februari 2027 di berbagai wilayah.
Jadi, kalau September dan Oktober masih terasa panas, kondisi tersebut belum berarti Indonesia tidak akan memasuki musim hujan. Tahun ini, masyarakat hanya perlu bersiap menghadapi pergeseran waktu datangnya hujan.
BMKG juga mengingatkan bahwa ketika musim hujan akhirnya datang, risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor tetap perlu diantisipasi.
Dengan kata lain, pertanyaannya bukan lagi sekadar “kapan hujan turun?”, tetapi juga “sudah siapkah kita ketika hujan akhirnya datang?”
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, BMKG