SOLOBALAPAN.COM – Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri dan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin tiba-tiba menghadap Presiden Prabowo Subianto di tengah isu tawaran posisi Menkeu menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Kehadiran dua tokoh penting ini ke Istana Negara pada Selasa sore kemarin tak pelak langsung memicu kegaduhan dan spekulasi liar di lini masa.
Banyak warganet menduga bahwa pertemuan mendadak tersebut merupakan sinyal kuat adanya pergantian posisi strategis bendahara negara di Kabinet Merah Putih.
Kronologi Pertemuan Mendadak di Istana Kepresidenan
Keduanya merapat ke Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (9/6/2026) kemarin. Mulanya, terlihat Chatib Basri di pintu pilar dekat Istana pada pukul 15.35 WIB.
Chatib datang bersamaan dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. Chatib membenarkan akan menemui Prabowo.
"Iya," kata Chatib saat ditanya apakah dirinya akan menemui Presiden.
Tak lama berselang, Budi Gunadi juga telihat di pintu pilar. Budi langsung masuk ke Istana.
"Halo. Sehat-sehat ya kalian," kata Budi singkat seraya berjalan memasuki Istana. Adapun Budi tiba di Istana pada pukul 17.03 WIB. Ia kemudian keluar pada pukul 18.48 WIB.
Mengingat tensi ekonomi makro yang sedang menantang, kedatangan para pakar finansial ini langsung digoreng netizen sebagai agenda penawaran kursi panas Menteri Keuangan yang saat ini diduduki oleh Purbaya Yudhi Sadewa.
Jawaban Kompak Chatib Basri dan Budi Gunadi Menepis Isu Reshuffle
Mendengar rumor yang terlanjur menggelinding bak bola salju, kedua tokoh ini langsung memberikan klarifikasi tegas sesaat setelah keluar dari ruang pertemuan bersama Presiden.
Setelah itu, Chatib pun angkat bicara mengena isu beredar dirinya ditawari posisi Menkeu di Kabinet Merah Putih menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Chatib menegaskan tidak ada tawaran tersebut.
"Nggak ada. Masa, ini kita bahas soal ekonomi kok," kata Chatib usai pertemuan dengan Prabowo di Istana Kepresidenan.
Di sisi lain, Menkes Budi Gunadi Sadikin juga memberikan jawaban serupa dengan nada berguyon khas dirinya saat dikonfirmasi oleh para awak media mengenai isu perpindahan posisinya menjadi Menteri Keuangan.
"Wah itu kan kata situ," katanya seraya berjalan ke arah mobilnya.
"Sekarang masih jadi Menkes," imbuhnya.
Penjelasan Istana dan Luhut Terkait Isi Pertemuan Sebenarnya
Melihat kegaduhan yang terjadi, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad ikut menanggapi pertemuan Prabowo dengan Luhut hingga Chatib.
Dasco mengaku telah meminta konfirmasi kepada pihak Istana terkait pertemuan tersebut. Dasco menegaskan bahwa Chatib hadir murni dalam kapasitasnya sebagai struktural penasihat ekonomi negara, bukan dalam rangka wawancara jabatan baru.
"Ya, pertemuan tadi sore antara Presiden dengan Pak Luhut dan Pak Chatib Basri, itu saya sudah memintakan konfirmasi dan sudah dapat konfirmasinya dari pemerintah, dari pihak Istana. Bahwa pertemuan tadi Pak Luhut sebagai dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan Pak Chatib Basri itu sebagai anggota Dewan Ekonomi Nasional," kata Dasco di kompleks parlement Senayan, Jakarta.
Luhut Binsar Pandjaitan pun membongkar isi pertemuan tersebut yang berfokus pada hasil evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di 800 titik serta optimalisasi data berbasis AI melalui Government Technology (Govtech).
Di samping itu, Chatib menambahkan bahwa pertemuan juga membahas kondisi pelemahan nilai tukar rupiah dan pentingnya menumbuhkan sentimen positif (confidence* pasar.
"Dan apa yang harus dilakukan termasuk juga untuk menumbuhkan masalah confidence, masalah trust kepada pemerintah. Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran termasuk salah satu di antaranya di dalam kaitan dengan MBG," kata dia.
Baca Juga: Menapaki 14 Perhentian Jalan Salib Gua Maria Mojosongo Solo
Analisis Fiskal dan Jabatan Baru Chatib Basri di London
Meski menampik isu bursa Menkeu baru, pandangan Chatib Basri mengenai pengelolaan APBN tetap menjadi acuan krusial.
Dalam forum ekonomi terpisah, ia mengingatkan bahwa mengelola keuangan negara saat ini sangat menantang dan hanya memiliki tiga opsi mutlak: menaikkan pendapatan, memotong pengeluaran, atau menambah pembiayaan.
"Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal, naikkan, potong, pinjam. Itu, hanya tiga itu," kata Chatib dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta.
"Kalau Anda tidak bisa naikkan, maka Anda harus potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda harus pinjam (utang). Sesederhana itu," ujarnya.
"Masa di dalam situasi ini pendapatan pajak, pajaknya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga," katanya. Begitu pula dengan opsi penambahan utang, "Siapa yang mau pinjam uang sekarang? Cost-nya akan jadi sangat mahal," ucapnya.
Sehingga, menurutnya efisiensi belanja secara selektif adalah jalan terbaik saat ini.
"Maka opsi yang mungkin itu adalah opsi tiga. Kurangi pengeluaran secara selektif," katanya.
"Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal risiko kepercayaan diri. Jadi kalau isu ini di-address, sebetulnya ada harapan ini bisa diperbaiki," imbuh Chatib dalam kesempatan tersebut.
Menariknya, di tengah isu domestik yang berembuk kencang, Chatib Basri justru resmi melebarkan sayapnya di panggung internasional.
Melalui unggahan di media sosial X pada Selasa (9/6/2026), Chatib mengumumkan dirinya bergabung dengan Centre for Economic Transition Expertise yang berbasis di London School of Economics and Political Science, Inggris.
"Sebuah kehormatan bagi saya untuk bergabung dengan Centre for Economic Transition Expertise di London School of Economics, UK. New chapter," tulisnya. Jabatan prestisius sebagai peneliti tamu (visiting appointment) ini membuktikan bahwa kapasitas sang ekonom senior memang diakui dunia internasional, terlepas dari segala rumor politik yang berkembang di tanah air. (lz)
Editor : Laila Zakiya