SOLOBALAPAN, NASIONAL — Tokoh perempuan adat dari Suku Malind (Marind-Anim) di Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Sinta, kini tengah menjadi sorotan publik.
Hal ini bermula dari pengakuan mengejutkannya yang merasa dijebak dalam proses pembuatan sebuah film dokumenter berjudul Pesta Babi.
Kekecewaan mendalam disampaikan oleh Mama Sinta lantaran wajah dan identitasnya digunakan di dalam film tersebut tanpa pernah ada penjelasan detail maupun permintaan izin resmi kepada dirinya.
Ia merasa keberadaannya tidak dihargai dalam proses produksi karya tersebut.
"Saya kaget, ditampilkan saya di film. Apa saya boneka atau ukiran Asmat, ditampilkan tanpa sepengetahuan saya dan izin saya. Saya kecewa sekali," keluh Mama Sinta terkait pencatutan sosoknya.
Profil Yasinta Moiwend: Sang Pejuang Hak Masyarakat Adat
Terlepas dari polemik film dokumenter tersebut, Yasinta Moiwend selama ini dikenal luas sebagai figur perempuan adat sekaligus pejuang lingkungan yang tangguh dari Merauke. Berikut adalah rekam jejak perjuangannya:
-
Pelindung Tanah Ulayat: Selama bertahun-tahun, Mama Sinta aktif berada di garis terdepan untuk memperjuangkan perlindungan tanah ulayat serta menjaga kelestarian ekosistem adat di wilayah kelahirannya.
-
Kritis terhadap Proyek Skala Besar: Perjuangan Mama Sinta sangat lekat dengan penolakannya terhadap eksploitasi lahan. Ia konsisten menyoroti dan mengkritisi program pengembangan lumbung pangan (food estate) hingga berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai berpotensi besar merampas dan mengancam kelangsungan ruang hidup masyarakat adat setempat.
-
Peraih S.K. Trimurti Award 2025: Berkat konsistensi, dedikasi, dan keberaniannya dalam menyuarakan hak-hak masyarakat tertindas serta isu kelestarian alam, Mama Sinta sempat dianugerahi penghargaan bergengsi S.K. Trimurti Award 2025 yang diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Kasus dugaan pencatutan identitas tanpa izin ini pun memantik simpati dari berbagai pihak, mengingat rekam jejak Mama Sinta yang selama ini selalu tulus berjuang untuk masyarakat adat di Tanah Papua.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo