SOLOBALAPAN, NASIONAL — Gelombang desakan agar Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menanggalkan jabatannya kian menguat menyusul tragedi tabrakan maut di Stasiun Bekasi Timur.
Meski tuntutan ini disuarakan oleh sejumlah politisi sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, beberapa pakar justru melihat fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda.
Pengamat hukum dan politik, Muslim Arbi, menilai desakan tersebut terlalu prematur dan berisiko menjadi ajang politisasi musibah jika dilakukan tanpa dasar investigasi yang objektif.
Dugaan Kepentingan di Balik Tekanan Politik
Muslim Arbi mengingatkan publik agar jeli melihat akar persoalan.
Ia menduga ada indikasi kepentingan tertentu, termasuk sinyal permintaan proyek di lingkungan KAI yang muncul bersamaan dengan tekanan terhadap direksi.
"Permintaan mundur harus didasarkan pada evaluasi objektif, bukan tekanan politik atau asumsi sesaat. Jangan sampai ada agenda lain di balik desakan tersebut. Saya menduga ada sinyal dugaan permintaan proyek," ujar Muslim, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, kecelakaan transportasi melibatkan variabel teknis dan operasional yang kompleks, sehingga tidak adil jika seluruh beban kesalahan langsung ditimpakan kepada pimpinan tertinggi sebelum hasil audit keselamatan keluar.
Prestasi dan Transformasi di Bawah Bobby Rasyidin
Di tengah badai kritik, rekam jejak Bobby Rasyidin dalam menahkodai KAI sejatinya menunjukkan tren positif. Beberapa capaian yang nyata dirasakan publik antara lain:
-
Kinerja Keuangan: Pendapatan perusahaan yang menyentuh angka Rp18,83 triliun.
-
Digitalisasi: Modernisasi layanan dan peningkatan ketepatan waktu perjalanan.
-
Fasilitas: Transformasi stasiun yang kini jauh lebih modern dan nyaman bagi pelanggan.
Profil dan Rekam Jejak Bobby Rasyidin
Bobby Rasyidin bukan sosok baru di dunia profesional dan BUMN.
Lahir di Padang pada 1974, ia merupakan lulusan Teknik Telekomunikasi ITB (1996) dan menyandang gelar MBA dari The University of New South Wales (UNSW), Australia.
Sebelum menjabat sebagai Dirut KAI pada Agustus 2025, ia memiliki karier yang sangat mentereng:
-
PT Alcatel Lucent Indonesia: Menjadi profesional muda Indonesia pertama yang menjabat sebagai Dirut di usia 38 tahun.
-
PT LEN Industri (Persero): Menjabat sebagai Dirut (2021-2025) dan sukses membawa transformasi di industri pertahanan.
-
Komisaris di Berbagai Perusahaan: Termasuk PT GMF Aero Asia Tbk dan PT Indonesian Cloud.
Kesimpulan: Menanti Hasil Investigasi
Meski keselamatan penumpang adalah prioritas mutlak yang tak bisa ditawar, pembenahan sistem perkeretaapian harus berbasis fakta.
Jika investigasi menunjukkan adanya kesalahan sistemik, maka perbaikan total pada sistem keselamatan adalah harga mati.
Namun, jika tuntutan mundur hanya didasari opini publik sesaat, hal itu dikhawatirkan akan menghambat stabilitas transformasi yang sedang berjalan di tubuh KAI.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo