SOLOBALAPAN, JAKARTA - Kabar duka kembali menyelimuti Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Dua prajurit terbaik yang tergabung dalam misi perdamaian PBB (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL), Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, dinyatakan gugur dalam serangan beruntun di wilayah Bani Haiyyan, Lebanon Selatan, Senin (30/3/2026).
Insiden tragis ini menambah deretan pahlawan bangsa yang gugur di Lebanon menjadi tiga orang dalam waktu yang berdekatan, setelah sebelumnya Praka Farizal Romadhon juga gugur pada 29 Maret 2026.
Sosok Kapten Zulmi dan Sertu Ichwan
Keduanya dikenal sebagai prajurit profesional dengan dedikasi tinggi di kesatuannya masing-masing:
-
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar: Perwira lulusan Akademi Militer (Akmil) 2015. Sebelum bertugas di Lebanon, ia mengabdi di satuan elite Grup 2 Kopassus. Dalam misi UNIFIL, ia menjabat sebagai Komandan Kompi (Danki) Task Force B yang bertanggung jawab atas operasi mobile reserve dan pengawalan logistik di wilayah rawan.
-
Sertu Muhammad Nur Ichwan: Prajurit TNI AD yang sehari-hari bertugas di Kesdam IX/Udayana. Ia tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda sebagai bagian dari Task Force B Indobatt. Sertu Ichwan berada di kendaraan yang sama dengan Kapten Zulmi saat insiden terjadi.
Baca Juga: Profil Praka Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI Asal Kulon Progo yang Gugur dalam Misi PBB di Lebanon
Kronologi Kejadian di Bani Haiyyan
Berdasarkan keterangan Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, insiden bermula pada Senin (30/3/2026) sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
-
Misi Pengawalan: Tim Escort Kompi B sedang mengawal konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) menuju Markas Satgas Yonmek TNI (UNP 7-1). Misi ini bertujuan mengirim logistik sekaligus menjemput jenazah Praka Farizal Romadhon.
-
Ledakan Hebat: Saat melintas di wilayah Bani Haiyyan, kendaraan pertama (Ran 1) yang ditumpangi empat personel TNI dihantam ledakan hebat.
-
Evakuasi Terkendala: Akibat tingginya intensitas serangan di lokasi, evakuasi jenazah Kapten Zulmi dan Sertu Ichwan sempat terkendala. Sementara itu, dua rekan lainnya yang terluka berhasil dievakuasi oleh kendaraan kedua.
Kondisi Korban Luka
Selain dua prajurit yang gugur, dua personel lainnya mengalami luka berat, yakni:
-
Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana
-
Praka Deni Rianto
Keduanya telah dievakuasi menggunakan helikopter dan saat ini tengah menjalani perawatan medis intensif di Rumah Sakit St. George, Beirut.
Data Korban Penyerangan (Maret 2026):
| Nama Prajurit | Status | Satuan Asal |
| Kapten Inf Zulmi Aditya I. | Gugur (30/3) | Grup 2 Kopassus |
| Sertu Muhammad Nur Ichwan | Gugur (30/3) | Kesdam IX/Udayana |
| Praka Farizal Romadhon | Gugur (29/3) | - |
| Lettu Inf Sulthan Wirdean M. | Luka Berat | - |
| Praka Deni Rianto | Luka Berat | - |
Reaksi Pemerintah Indonesia
Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) melayangkan kutukan keras atas serangan ini.
Indonesia menegaskan bahwa penyerangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Hingga kini, pihak UNIFIL masih melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap penyebab pasti ledakan di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah yang kian memanas di perbatasan Lebanon Selatan.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo