SOLOBALAPAN, SURABAYA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia pada periode Maret 2026 dinilai sebagai langkah yang wajar dan tak terhindarkan.
Ekonom Universitas Airlangga (UNAIR), Wisnu Wibowo, menyebutkan bahwa gejolak politik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran, telah mengganggu pasokan minyak dunia dan memicu lonjakan harga komoditas global.
Konsekuensi Logis Harga Pasar Internasional
Menurut Wisnu, penetapan harga BBM non-subsidi di tanah air memang mengikuti skema harga pasar internasional. Hal ini membuat penyesuaian harga di tingkat eceran menjadi sangat dinamis mengikuti pergerakan kurs dan harga acuan dunia.
“Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional. Kenaikan nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen,” ujar Wisnu saat dihubungi pada Senin (30/3/2026).
Penyesuaian ini juga telah diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, di mana badan usaha memiliki kewenangan menyesuaikan harga jual secara berkala dengan tetap melaporkan kepada pemerintah.
Rincian Kenaikan Harga BBM Pertamina
Kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh lini produk non-subsidi, mulai dari jenis bensin RON tinggi hingga solar industri.
Sementara itu, pemerintah terpantau masih mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar untuk menjaga daya beli masyarakat.
Tabel Penyesuaian Harga BBM (Maret 2026):
| Jenis BBM | Harga Lama (Rp/Liter) | Harga Baru (Rp/Liter) |
| Pertamax (RON 92) | 11.800 | 12.300 |
| Pertamax Green (RON 95) | 12.450 | 12.900 |
| Pertamax Turbo (RON 98) | 12.700 | 13.100 |
| Dexlite | 13.250 | 14.200 |
| Pertamina Dex | 13.500 | 14.500 |
| Pertalite (Subsidi) | 10.000 | 10.000 (Tetap) |
| Solar (Subsidi) | 6.800 | 6.800 (Tetap) |
Tekanan Fiskal dan Perbandingan Kawasan ASEAN
Lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka USD 100 per barel memberikan tekanan berat pada APBN. Wisnu menjelaskan bahwa setiap kenaikan USD 1 pada harga minyak berpotensi menambah beban fiskal negara hingga Rp 6,7 triliun.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Bahkan, Thailand dan Vietnam mengalami lonjakan tajam pada harga solar yang berdampak langsung pada sektor logistik.
Jika dibandingkan, harga BBM di Indonesia masih tergolong kompetitif dibandingkan Singapura atau Thailand.
Komparasi Harga BBM di ASEAN (Maret 2026):
-
Malaysia: RON 95 (± Rp8.500 – Rp11.400), Solar (± Rp10.000 – Rp11.500).
-
Singapura: RON 95 (± Rp45.000), Solar (± Rp45.000 – Rp47.000).
-
Thailand: RON 95 (± Rp23.000 – Rp24.000), Solar (± Rp17.000).
-
Vietnam: RON 95 (± Rp25.000+), Solar (± Rp20.000 – Rp21.000+).
Mekanisme penyesuaian berkala ini mengacu pada tren harga minyak dunia melalui Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus.
Pemerintah diharapkan terus memantau dinamika Selat Hormuz agar stabilitas pasokan energi dalam negeri tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo