SOLOBALAPAN.COM - Nama Hendrik Irawan mendadak ramai diperbincangkan setelah video dirinya berjoget sambil membahas keuntungan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.
Dalam video tersebut, ia menyebut angka Rp6 juta per hari, yang kemudian memicu berbagai reaksi publik.
Namun, di balik viralnya konten tersebut, fakta yang terungkap justru berbeda.
Penutupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) miliknya di Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, ternyata bukan semata-mata karena aksi joget tersebut.
Disidak BGN, Dapur SPPG Ternyata Belum Sesuai Standar
Hendrik mengungkap bahwa dapur SPPG miliknya dihentikan sementara setelah dilakukan inspeksi mendadak oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Dari hasil sidak, ditemukan bahwa fasilitas belum memenuhi standar teknis.
"Betul, kemarin kami disidak BGN dan untuk sementara operasional dapur dihentikan. Memang kami akui IPAL belum ada, sekarang sedang dibenahi," ungkap Hendrik.
Ketiadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi salah satu alasan utama penghentian operasional.
Selain itu, tata letak dapur juga dinilai tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penegasan BGN: Bukan Soal Joget, Tapi Pelanggaran Teknis
Pihak BGN menegaskan bahwa keputusan penutupan bukan karena konten joget yang viral, melainkan karena ketidaksesuaian standar operasional.
“Dapurnya sudah kita suspend, bukan perkara dia nari, tapi karena layout-nya salah dan IPAL tidak sempurna,” terang Nanik kepada wartawan, seperti dikutip Rabu (25/3/2026).
BGN juga mengingatkan bahwa program MBG bukanlah bisnis yang bisa diperlakukan sembarangan, melainkan bagian dari pelayanan publik yang harus dijaga integritasnya.
Klarifikasi Hendrik Soal Rp6 Juta per Hari
Menanggapi polemik yang berkembang, Hendrik memberikan klarifikasi terkait angka Rp6 juta yang disebut dalam videonya.
Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan berasal dari dana makanan anak-anak.
"Jadi hari ini saya menjelaskan insentif Rp 6 juta yang saya dapatkan itu dari mana. Jangan sampai netizen blunder. Jadi itu insentif bukan diambil dari jatah anak-anak, itu dari insentif yang bapak presiden (Prabowo Subianto) berikan," jelas Hendrik.
Ia juga menyebut pembangunan dapur SPPG tersebut menggunakan dana pribadi hingga mencapai miliaran rupiah.
Baca Juga: Masih Jadi Jagoan di MotoGP 2026, Ini 1 Hal yang Kurang dari Marc Marquez di Pertandingan Tahun Ini
150 Relawan Terdampak Penutupan
Dampak dari penutupan ini tidak hanya dirasakan oleh Hendrik, tetapi juga ratusan relawan yang bekerja di SPPG tersebut.
Mereka kini harus berhenti sementara tanpa kepastian kapan operasional kembali dibuka.
"Dengan keputusan BGN, ada sekitar 150 relawan yang tidak akan bekerja. Jadi mungkin inilah dampaknya mungkin saya terlalu frontal, saya sangat prihatin bagaimana nasib relawan saya, 150 relawan yang benar-benar sudah semangat," terangnya.
Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Hendrik sebelumnya yang menyebut para relawan kini tidak bisa bekerja akibat penghentian operasional.
Permintaan Maaf dan Pengakuan Kesalahan
Hendrik secara terbuka meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi. Ia mengakui kesalahannya, baik dari sisi konten maupun kelalaian dalam memenuhi standar operasional.
"Saya mohon maaf kepada netizen, ini jadi pelajaran buat saya. Ya saya juga terima kalau SPPG ditutup sementara, sambil kita juga terus berbenah," ujar Hendrik.
Ia juga meminta maaf kepada pemerintah dan masyarakat luas atas polemik yang terjadi.
Pelajaran dari Kasus Viral SPPG Pangauban
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana konten viral di media sosial bisa berdampak besar terhadap operasional di dunia nyata.
Tidak hanya soal persepsi publik, tetapi juga membuka perhatian terhadap aspek teknis yang sebelumnya luput.
BGN sendiri menegaskan pentingnya profesionalisme bagi seluruh mitra program MBG agar tidak merusak kepercayaan publik.
“Ya saya minta mitra itu low profile lah jangan aneh-aneh, kalau ada yang aneh-aneh nanti saya suspend atau malah kita hentikan dapurnya,” pesan Nanik. (lz)
Editor : Laila Zakiya