SOLOBALAPAN.COM – Ketimpangan mencolok terlihat dalam perbandingan ketahanan energi antara Indonesia dan Jepang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini masih tertinggal jauh dari standar negara maju.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026), Bahlil membeberkan fakta bahwa kapasitas penyimpanan (storage) Indonesia hanya mampu bertahan maksimal di angka 25 hingga 26 hari.
Angka ini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan Jepang yang memiliki cadangan BBM hingga 254 hari.
Kendala Infrastruktur Penyimpanan
Terbatasnya infrastruktur menjadi alasan utama mengapa Indonesia belum bisa menimbun cadangan energi dalam jumlah besar.
Bahlil mengakui, meskipun Indonesia melakukan impor besar-besaran, pemerintah akan kesulitan mencari tempat penampungan yang memadai.
“Sekarang, kalau kita impor sebanyak Jepang, kita mau taruh di mana? Itu permasalahan utama kita,” ujar Bahlil jujur.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah tengah melakukan studi kelayakan untuk membangun storage baru dengan kapasitas hingga 90 hari atau tiga bulan.
Proyek strategis ini ditargetkan mulai dibangun pada tahun 2026 dan akan dipusatkan di Pulau Sumatera agar selaras dengan standar internasional.
Stok Aman Menjelang Lebaran 2026
Di tengah bayang-bayang krisis, Bahlil memberikan kabar baik terkait ketersediaan energi untuk kebutuhan dalam negeri dalam waktu dekat.
Ia memastikan stok minyak mentah (crude), BBM, hingga LPG saat ini berada di atas standar minimum nasional (23 hari).
“Terkait persiapan bulan puasa dan hari raya Idul Fitri, alhamdulillah stok BBM, crude, dan LPG semua rata-rata di atas standar minimum. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Dampak Konflik Global dan Penutupan Selat Hormuz
Ketahanan energi Indonesia menjadi sorotan tajam menyusul memanasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Eskalasi serangan yang dikabarkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu ketegangan di jalur perdagangan dunia.
Media internasional melaporkan bahwa Selat Hormuz kini "secara efektif" telah ditutup.
Hal ini menjadi ancaman serius bagi dunia, mengingat koridor tersebut menangani sekitar seperlima dari total perdagangan minyak global atau sekitar 20 juta barel per hari.
Penutupan jalur ini diprediksi akan mengguncang harga minyak dunia dan memaksa tiap negara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kemandirian energinya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo