SOLOBALAPAN.COM - Tren "jangan ya dek ya" sedang menjadi populer di TikTok dan telah menyebar ke platform lain seperti Instagram dan X.
Awalnya, tren ini dipopulerkan oleh akun TikTok @zio.butto.pink, yang mulai membuat konten sketsa sejak April 2024.
Video-video dari akun ini menampilkan anak kecil yang diajak untuk menjawab pertanyaan yang konyol dan tak masuk akal.
Saat anak kecil mulai menjawab, sang pembuat konten akan mengucapkan "jangan ya dek ya" sebagai kode bahwa pertanyaan tersebut sebenarnya hanyalah guyonan.
Fenomena ini bermula dari video viral di akun @zio.butto.pink, yang telah ditonton lebih dari 29 juta kali di TikTok.
Dari sana, tren ini menyebar luas dan mendapat perhatian di berbagai platform media sosial lainnya.
Video tersebut menampilkan seorang pria dengan logat Jawa yang khas bertanya kepada seorang anak laki-laki bernama Slamet yang mengenakan baju hitam dan menaiki sepeda.
Pertanyaan-pertanyaan aneh yang diajukan berhasil menarik perhatian banyak netizen.
Awalnya dimulai dengan pertanyaan tentang nama, pemilik akun TikTok @zio.butto.pink kemudian melontarkan pertanyaan-pertanyaan kocak.
"Udah pernah gendong bayi dinosaurus biru belum dek?" tanyanya.
"belum," jawab bocah tersebut.
"Besok minum susu biawak ya dek ya," ujar pemilik akun tersebut.
Setelahnya ia mengucapkan "jangan ya dek ya," sembari tersenyum.
Tak berhenti disitu pemilik akun tersebut kembali menanyakan pertanyaan lucu lainnya. Kali ini ia memberikan pilihan ganda kepada bocah tersebut.
"Jika bapak baca koran, apa yang dilakukan nenek moyang?" tanya pria tersebut.
"A. menjelma siluman ular, B. minum jamu oli, C. goreng kepala gajah, D. nyemil pupuk kandang," tambahnya.
Bocah itupun kebingungan dan asal memilih C. Namun, jawabannya ternyata menanam padi di kamar mandi.
Setelah itu, pria tersebut memberikan uang untuk bocah tersebut lalu menanyakan pertanyaan terakhir.
"Kamu udah pernah minum jamu oli belum dek?" tanyanya.
"belum," jawab bocah tersebut.
"Besok bikin ya," ujar pemilik akun tersebut.
Setelahnya ia mengucapkan "jangan ya dek ya,". (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo