SOLOBALAPAN.COM - Di tengah belantara waktu dan riuh perkembangan kota Ngawi, berdiri megah dan sunyi sebuah struktur yang membawa napas masa lalu: Benteng Pendem.
Bukan sekadar tumpukan bata tua, benteng ini adalah saksi bisu kolonialisme, peperangan, dan cerita-cerita gaib yang membayang di antara dindingnya yang ditumbuhi lumut.
Warisan dari Perang, Dibangun dalam Ketegangan
Benteng Pendem atau Van Den Bosch Fort, dibangun oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch antara 1839 hingga 1845.
Lokasinya tak sembarangan. Ia berada di muara pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Madiun, sebuah titik strategis yang kala itu penting untuk mengontrol jalur logistik serta mencegah gelombang perlawanan dari arah timur Jawa pasca Perang Diponegoro.
Bangunan ini dirancang mengikuti arsitektur militer Eropa yang khas: tebal, simetris, dan fungsional. Dindingnya menjulang kokoh, ruangan-ruangan gelap menyembunyikan gudang mesiu, penjara, dan barak tentara.
Konon, benteng ini mampu menampung lebih dari 250 pasukan infanteri dan 60 kavaleri lengkap dengan 6 meriam—sebuah kekuatan besar untuk ukuran daerah pedalaman Jawa pada masa itu.
Baca Juga: Tragis! Dua Penambang Tewas Tertimbun Longsor di Tambang Galian C Ilegal Argasunya, Cirebon
Namun, kejayaan kolonial hanyalah fase singkat dalam sejarah panjangnya. Saat Jepang menduduki Indonesia (1942–1945), Benteng Pendem berubah fungsi menjadi kamp interniran, tempat ribuan orang ditawan, mengalami kelaparan, bahkan kematian.
Aroma Mistis yang Menyatu dengan Sejarah
Benteng ini bukan hanya ladang sejarah. Ia juga menjadi rumah bagi cerita-cerita gaib yang berkembang dari generasi ke generasi.
Salah satu kisah paling ikonik adalah tentang makam KH Muhammad Nursalim, seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang diyakini dikubur hidup-hidup oleh Belanda karena dianggap pemberontak sakti mandraguna.
Menjelang senja, suasana di dalam benteng berubah. Bayang-bayang merayap panjang di lorong sempit. Angin berdesir menyusuri dinding batu bata.
Banyak pengunjung mengaku melihat sosok bersorban putih atau mendengar suara derap kuda tak bertuan. Apakah ini sekadar sugesti? Atau jejak energi yang tertinggal dari masa lalu yang kelam?
Dari Reruntuhan ke Ruang Hidup Baru
Setelah lama terabaikan dan hampir menjadi puing sejarah, akhirnya angin perubahan datang. Pada Februari 2019, Presiden Joko Widodo mengunjungi Benteng Pendem dan memerintahkan revitalisasi total.
Proyek besar pun dimulai pada Desember 2020. Dengan dana mencapai Rp113 miliar, pemerintah bekerja sama dengan PT Nindya Karya dan BPCB Jawa Timur untuk mengembalikan marwah benteng ini, bukan sekadar sebagai situs bersejarah, tapi juga ruang publik yang hidup.
Kini, benteng seluas 21 hektare ini tak lagi hanya menyimpan masa lalu. Ia menjadi ruang edukatif yang ramah keluarga.
Di dalamnya berdiri museum kecil, taman interaktif, jalur pedestrian, bahkan ruang terbuka tempat masyarakat bisa bersantai, berfoto, atau sekadar mengamati arsitektur kolonial yang sudah direstorasi.
Baca Juga: Singapura Tak Punya Sawah, Tapi Transfer Teknologi Pertanian ke Indonesia, Kok Bisa? Ini Alasannya
Cara Menuju Benteng Pendem
Terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, benteng ini mudah dijangkau. Dari Kota Solo, perjalanan darat memakan waktu sekitar 1,5–2 jam via Tol Solo–Ngawi. Dari pusat kota Ngawi, hanya 5 menit berkendara ke lokasi. Tiket masuk pun ramah kantong: Rp5.000–Rp10.000, dengan jam buka pukul 08.00–17.00 WIB setiap hari.
Menyusuri Jejak, Menyentuh Zaman
Berjalan di lorong-lorong sunyi Benteng Pendem adalah seperti berjalan dalam lorong waktu. Setiap retakan tembok, setiap coretan di dinding, membawa kita kembali pada fragmen-fragmen sejarah yang terabaikan.
Tapi kini, dengan wajah barunya, benteng ini bukan hanya tempat untuk mengenang masa lalu—tapi juga ruang untuk mencipta kenangan baru.
Sebagai jurnalis perjalanan, saya percaya: tempat seperti ini bukan sekadar destinasi, tapi cermin yang memantulkan siapa kita dulu, dan ke mana kita melangkah.
???? Tip Fotografi : Kunjungi saat matahari mulai turun di barat. Pantulan cahaya senja di dinding merah bata memberi tone dramatis nan sinematik—layak untuk jadi latar kisahmu sendiri.
Kalau kamu mencari pengalaman wisata yang bukan hanya indah tapi juga bermakna, Benteng Pendem adalah jawabannya. (tyo/an)
*Joko Sulistyo