
SOLOBALAPAN.COM - Sanggar Paringga Jati Raras menjadi salah satu ruang kreatif yang konsisten menghadirkan pendidikan seni tari bagi anak-anak sejak usia dini. Berdiri pada 1 Agustus 2004 di bawah pimpinan Budiono, sanggar ini terus berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya mengenal seni, tetapi juga memiliki kepekaan tubuh dan rasa.
Sejak awal berdirinya, Paringga Jati Raras diposisikan sebagai wadah pembelajaran yang tidak semata berorientasi pada pertunjukan. Lebih dari itu, sanggar ini berperan sebagai inisiator dalam pengembangan sekaligus pelestarian seni, khususnya di kalangan anak-anak.
Dalam proses pembelajaran, Budiono menekankan pentingnya mengenalkan gerak sejak dini kepada anak-anak. Ia melihat bahwa tubuh anak perlu dibiasakan untuk aktif agar memiliki kekayaan ekspresi dan fleksibilitas dalam bergerak.
“Saya ingin mengajak anak-anak untuk paling tidak ya punya dulu lah untuk bergerak. Supaya ketubuhannya lebih kaya,” ujar Budiono saat diwawancarai pada Minggu (19/4/2026).
Baca Juga: Usai Tegur Safrie Ramadhan, Na Daehoon Ogah Disamakan dengan Jule, Kini Pilih 'Posesif' ke Trio Na

Pendekatan yang diterapkan di sanggar ini tidak instan. Anak-anak yang baru pertama kali belajar menari umumnya masih kaku dan belum terbiasa mengikuti instruksi gerak. Oleh karena itu, proses pembelajaran dilakukan secara bertahap dengan metode yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka.
Budiono mengakui bahwa mengolah teknik gerak anak-anak yang belum memiliki dasar tari membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, ia meyakini bahwa proses tersebut justru menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan ketahanan belajar anak.
Menurutnya, aktivitas menari memiliki manfaat yang luas, tidak hanya dalam aspek seni, tetapi juga perkembangan motorik dan kognitif. Gerakan yang dilakukan secara berulang membantu anak mengenali koordinasi tubuhnya dengan lebih baik.
Selain itu, pola repetitif dalam latihan tari juga berperan dalam melatih daya ingat anak. Mereka dituntut untuk menghafal rangkaian gerak sekaligus memahami irama, sehingga secara tidak langsung melatih konsentrasi dan fokus.

“Lewat gerak repetitif yang diajarkan, dan hafalan yang diberikan, dapat membantu perkembangan mental, fisik, dan daya pikir anak-anak,” jelas Budiono.
Manfaat lain yang dirasakan adalah peningkatan kepercayaan diri. Anak-anak yang awalnya cenderung pemalu perlahan mulai berani tampil, baik di depan teman-temannya maupun dalam kesempatan pentas.



