Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Nilai TKA Anjlok, Profesor UNS: Masalah Ada pada Guru dan Sistem Pendidikan

Alfida Nurcholisah • Senin, 29 Desember 2025 | 23:31 WIB

Hasil TKA per Provinsi
Hasil TKA per Provinsi

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Anjloknya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa memicu keprihatinan serius dari kalangan akademisi.

Ketua Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Joko Nurkamto, menegaskan rendahnya capaian TKA tidak bisa semata-mata dibebankan kepada siswa, melainkan mencerminkan problem mendasar pada kualitas guru dan sistem pembelajaran nasional.

“Saya juga prihatin dengan kondisi tenaga pendidik saat ini. Kemampuan guru kita juga masih kurang. Ini tercermin dari data uji kompetensi guru yang masih rendah,” ujar Joko, Senin (29/12).

Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) nasional tahun 2012, nilai rata-rata guru hanya 56,69 dari skala 100, mencakup kompetensi pedagogik dan profesional. Kondisi tersebut, kata dia, berdampak langsung pada kualitas proses belajar mengajar di ruang kelas.

Baca Juga: CEK FAKTA! Video Aspal Hanyut Saat Banjir di Cirebon Ternyata Hoaks? Kapolres Ungkap Fakta Sebenarnya!

“Kalau ada enam level tingkat kesulitan soal, umumnya guru kita baru mampu menyusun sampai level tiga. Masih sebatas fakta dan hafalan, belum menyentuh analisis, evaluasi, dan pembelajaran mendalam,” jelasnya.

Joko menilai persoalan ini bersifat sistemik dan belum ditata dari hulu. Ia membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan Finlandia yang dikenal memiliki kualitas pendidikan terbaik dunia.

“Di Finlandia, guru direkrut dari lulusan terbaik. Di Indonesia justru lulusan terbaik lebih memilih profesi lain seperti dokter. Padahal kualitas pendidikan itu sangat ditentukan oleh kualitas gurunya,” tegasnya.

Baca Juga: GEBYAR PIALA DUNIA 2026! TVRI Resmi Pegang Hak Siar FIFA World Cup, Siap Tayangkan Seluruh Pertandingan Secara Gratis dan Inklusif!

Meski demikian, Joko memandang pelaksanaan TKA tetap penting sebagai alat evaluasi nasional karena penilaiannya dilakukan langsung oleh pemerintah pusat.

“Kalau penilaian diserahkan ke sekolah, sering terjadi pengatrolan nilai. Akibatnya tidak mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya,” katanya.

Ia juga menambahkan, faktor kesiapan siswa turut memengaruhi hasil TKA, mengingat sebelumnya tes tersebut sempat dianggap tidak wajib sehingga tidak semua siswa mempersiapkan diri secara maksimal.

“Kalau mahasiswa saja masih banyak yang kesulitan diminta menganalisis, apalagi siswa. Dengan kondisi guru yang belum ideal, bisa dibayangkan kemampuan siswa kita saat ini,” pungkasnya.

Baca Juga: Lapangan Tenis Rp 1,6 Miliar Mbrodol, PELTI: Seharusnya Dikerjakan Ahli

Pandangan senada disampaikan dosen FMIPA Matematika UNS, Sutanto. Ia menilai jebloknya nilai TKA tak bisa dilepaskan dari metode pembelajaran dan sistem pendidikan yang belum terstruktur dengan baik.

“Di Malaysia ada uji kompetensi numerik yang konsepnya jelas dan disiapkan secara mendasar. Bukan sekadar tes, tapi bagian dari sistem literasi numerik yang rapi. Di Indonesia, TKA muncul tiba-tiba,” ungkapnya.

Sutanto juga menyinggung hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang selama ini menunjukkan capaian Indonesia masih rendah tanpa diikuti evaluasi menyeluruh.

“Kita berkali-kali ikut PISA dan hasilnya jelek, tapi tidak ada upaya serius untuk menata ulang sistemnya. Berbeda dengan Malaysia yang benar-benar menyiapkan literasi numerik secara sistematis,” katanya.

Menurutnya, soal-soal TKA yang menuntut kemampuan analitis dan berpikir kritis sulit dijawab siswa karena tidak sesuai dengan pengalaman belajar mereka di kelas.

Baca Juga: Aturan Bansos 2026, BLT Kesra Rp900 Ribu Disetop, KPM Masih Bisa Terima PKH dan BPNT Jika Penuhi Syarat Ini

“Kalau siswa tiba-tiba diminta menganalisis pertambahan volume embung, tentu sulit. Itu bukan soal yang biasa mereka hadapi dalam pembelajaran sehari-hari,” jelasnya.

Ia menegaskan, akar persoalan terletak pada metode teaching and learning yang masih didominasi lower order thinking skills (LOTS), sementara TKA justru menuntut higher order thinking skills (HOTS).

“Jebloknya nilai TKA ini bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Ini masalah sistem, metode pembelajaran, dan kurikulum yang belum mendukung pembentukan kemampuan berpikir kritis,” pungkasnya. (alf/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Tes Kemampuan Akademik #uji kompetensi guru #joko nurkamto #Sutanto #Hasil TKA