SOLOBALAPAN.COM - Kalian pernah nggak sih, merasa puasa itu bukan berat saat menahan laparnya, tapi saat harus menahan hausnya?
Padahal kita baru sama-sama menahan, tapi kenapa yang berasa berat cuma menahan hausnya?
Ternyata ada penjelasannya loh!
Saat menjalani ibadah puasa Ramadhan, banyak orang yang mengeluh bukan soal perut kosong, tetapi tenggorokan kering yang terasa lebih menyiksa.
Rasa haus sering kali datang lebih cepar dibandingkan dengan rasa lapar, terutama saat cuaca panas atau aktivitas yang padat.
Hal ini ternyata bukan cuma sugesti belaka.
Secara ilmiah, tubuh manusia memang jauh lebih sensitif ketika kekurangan cairan dibanding dengan kekurangan makanan.
Tubuh manusia sendiri terdiri dari sekitar 60 hingga 70 persen air.
Cairan tersebut berperan penting dalam hampir seluruh fungsi tubuh, mulai dari mengatur suhu, melancarkan peredaran darah, hingga menjaga kinerja otak.
Ketika tubuh kehilangan cairan hanya sekitar satu sampai dua persen saja, otak sudah langsung memberi sinyal kuat berupa rasa haus, pusing ringan, lelah, hingga sulit berkonsentrasi.
Berbeda dengan kondisi lapar. Saat tidak mendapatkan asupan makanan, tubuh masih memiliki cadangan energi berupa glikogen di hati dan otot, serta lemak yang dapat diubah menjadi sumber tenaga.
Cadangan inilah yang membuat manusia mampu bertahan tanpa makan dalam waktu cukup lama tanpa langsung merasa lemah.
Sementara itu, tubuh tidak memiliki cadangan air dalam jumlah besar.
Meski sedang berpuasa, tubuh tetap kehilangan cairan melalui keringat, napas, dan buang air kecil.
Proses ini berlangsung terus sepanjang hari, sehingga kadar cairan menurun secara perlahan namun pasti.
Kondisi inilah yang membuat rasa haus semakin terasa berat menjelang waktu berbuka.
Apalagi jika seseorang banyak bergerak atau berada di lingkungan panas, penguapan cairan akan terjadi lebih cepat.
Selain itu, rasa lapar juga cenderung menurun setelah beberapa jam puasa.
Tubuh akan menyesuaikan diri dengan menekan hormon pemicu lapar dan mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi.
Sebaliknya, rasa haus akan terus meningkat hingga tubuh mendapatkan cairan kembali.
Tak heran jika banyak orang mengaku mampu menahan lapar seharian penuh, namun merasa sangat tersiksa ketika tenggorokan mulai kering.
Para ahli kesehatan pun menyarankan agar kebutuhan cairan dipenuhi secara optimal saat sahur dan berbuka.
Pola minum bertahap, mengurangi konsumsi makanan asin dan gorengan, serta memperbanyak buah yang mengandung air menjadi langkah sederhana untuk mencegah dehidrasi selama puasa.
Dengan menjaga keseimbangan cairan tubuh, puasa Ramadan tak hanya menjadi ibadah yang menenangkan, tetapi juga tetap nyaman dijalani tanpa keluhan haus berlebihan. (mg/lz)
Magang/Izza Aziza Queen Sophia
Editor : Laila Zakiya