
SOLOBALAPAN.COM - Putih, abu-abu dan hitam menjadi warna yang banyak ditemui pada bangunan modern. Warna tersebut sering berpadu dengan beton, kaca dan baja sehingga menghasilkan tampilan yang sederhana dan bersih.
Tampilan itu tidak lepas dari gaya minimalis yang mengutamakan bentuk sederhana, fungsi ruang dan minim ornamen. Karena itu, bangunan dengan garis tegas serta warna netral menjadi pemandangan yang cukup umum di kawasan perkotaan.
Namun, tren desain belakangan mulai bergerak ke arah yang lebih hangat. Minimalisme belum ditinggalkan, tetapi sejumlah rancangan mulai memasukkan warna, tekstur dan material alami untuk memberikan karakter pada ruang.
Warna bumi seperti cokelat, terakota dan hijau mulai digunakan, baik sebagai warna utama maupun sekadar aksen. Penggunaan warna yang lebih berani membuat ruang tidak lagi bergantung pada palet putih dan abu-abu.
Perubahan juga terlihat dari pemilihan material. Kayu, batu dan terakota kembali digunakan karena memiliki warna serta tekstur alami yang membuat ruang terasa lebih hangat.
Material tersebut tetap bisa dipadukan dengan elemen modern. Kayu, misalnya, dapat ditempatkan bersama beton atau kaca sehingga bentuk minimalis tetap terlihat tanpa membuat ruangan terasa terlalu kaku.
Tanaman menjadi unsur lain yang semakin sering hadir dalam desain. Tidak hanya di halaman, tanaman juga digunakan pada balkon, teras, ruang kerja, hingga bagian dalam bangunan.
Penggunaan unsur alam ini berkaitan dengan konsep biophilic design, yaitu pendekatan yang menghadirkan elemen alam ke dalam ruang melalui tanaman, cahaya alami serta material seperti kayu dan batu.
Perpaduan tersebut membuat desain modern memiliki pilihan yang lebih beragam. Ruangan tetap dapat mempertahankan bentuk sederhana, tetapi memiliki warna, tekstur dan unsur alami sebagai penyeimbang.
Kecenderungan ini juga menunjukkan perubahan cara melihat sebuah ruang. Fungsi tetap menjadi dasar, tetapi suasana dan pengalaman pengguna ikut diperhatikan dalam menentukan desain.



