
SOLOBALAPAN.COM - Pernah mendengar seseorang di kantor berkata, “Nanti kita follow up lagi,” “Kita perlu alignment dulu,” atau “Tolong kirim deliverables-nya sebelum deadline”?
Bagi orang yang sudah terbiasa dengan lingkungan kerja, istilah tersebut mungkin terdengar biasa. Namun, bagi mahasiswa, anak magang, atau orang yang baru memasuki dunia kerja, percakapan semacam itu terkadang terasa seperti memiliki bahasa sendiri.
Istilah-istilah tersebut dikenal sebagai bagian dari bahasa korporat atau corporate jargon. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan bahasa korporat?
Apa Itu Bahasa Korporat?
Bahasa korporat merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kosakata, ungkapan, atau gaya bahasa khusus yang lazim digunakan dalam lingkungan bisnis dan pekerjaan. Istilah ini dapat berupa kata teknis, singkatan, akronim, maupun ungkapan tertentu yang maknanya sudah dipahami oleh orang-orang dalam lingkungan profesional.
Dalam bahasa Inggris, fenomena ini dikenal sebagai corporate jargon, business jargon, atau corporate speak. Jargon sendiri pada dasarnya merupakan bahasa khusus yang digunakan kelompok atau bidang tertentu sehingga orang di luar kelompok tersebut belum tentu langsung memahami maksudnya.
Karena digunakan berulang kali dalam lingkungan kerja, sejumlah istilah akhirnya menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Penggunaannya pun tidak selalu terbatas pada perusahaan besar. Dunia startup, agensi, teknologi, pemasaran, hingga organisasi juga memiliki istilah dan ungkapan khas masing-masing.
Kenapa Istilahnya Banyak Menggunakan Bahasa Inggris?
Salah satu hal yang mudah ditemukan dalam bahasa korporat adalah penggunaan istilah bahasa Inggris. Kata seperti meeting, follow up, update, deadline, approval, dan stakeholder sering muncul dalam percakapan maupun pesan pekerjaan.
Penggunaan istilah tersebut salah satunya berkaitan dengan kebutuhan komunikasi yang cepat dan ringkas. Jargon dapat menjadi semacam jalan pintas untuk menyampaikan konsep yang sebenarnya lebih panjang. Ketika semua orang dalam satu lingkungan memahami istilah yang sama, komunikasi bisa menjadi lebih efisien.
Namun, persoalannya muncul ketika istilah tersebut digunakan kepada orang yang belum memahami maknanya. Bahasa yang dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi justru dapat membuat pesan menjadi sulit dipahami.
Penelitian tentang jargon literacy dalam komunikasi di tempat kerja juga menyoroti pentingnya kemampuan mengenali, memahami, dan menggunakan istilah khusus sesuai konteks agar tidak terjadi kesenjangan pemahaman.



