Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjadi Jawa melalui Pertunjukan Kethoprak

L
Penulis: Laila Zakiya❯
 Pertunjukan Izwadi Harahap sebagai Dagelan dalam Kethorak berjudul Braja Mustika. (Dok. Prodi Teater ISI Surakarta)
Pertunjukan Izwadi Harahap sebagai Dagelan dalam Kethorak berjudul Braja Mustika. (Dok. Prodi Teater ISI Surakarta)

Advertisement

 

SOLOBALAPAN.COM - Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sebagai perguruan tinggi negeri, tentunya tidak hanya sebagai wadah pendidikan bagi calon seniman yang berasal dari tanah Jawa. 

Banyak Mahasiswa yang berasal dari luar Jawa seperti Sumatera, kalimantan, hingga Papua.

Advertisement

Tentunya banyak sekali hal—hal baru bagi mereka yang mereka temukan saat sampai di tanah Jawa, salah satunya adalah bahasa Jawa.

Sebagai mahasiswa kesenian yang tidak jauh dan erat hubungannya dengan pertunjukan, Izwadi Harahap, salah seorang mahasiswa Teater asal Padangsidimpuan, menemukan bahasa jawa sebagai kesulitan utamanya saat pertama kali sampai di Surakarta.

Advertisement

Dari situlah tantangan hidup bagi pria berbadan besar asal Sumatera Utara itu dimulai, ia diharuskan untuk dapat memahami bahasa jawa sebagai bahasa sehari—hari dan sebagai bahasa pertunjukan dalam kesenian tradisi Kethoprak.

Lambat laun, Izwadi yang akan mendapat gelar Sarjana Seni di tahun 2026 ini, menemukan strategi baginya untuk menjadi Jawa, yaitu memosisikan dirinya sebagai orang yang tidak tahu apa—apa melalui tokoh dagelan.

Dagelan yang menjadi pengundang tawa penonton dalam kethoprak ini, ia gunakan sebagai tokoh pendatang di tanah Jawa yang selalu ikut campur dalam permasalahan kerajaan dalam setiap lakon pertunjukan.

“Sebagai pendatang, aku lebih memposisikan diriku ini seperti gelas yang kosong aja. Ikut mengalir dalam pembahasan pertunjukan. Salah satu strategiku itu memakai bahasa Indonesia berlogat batak untuk menarik tawa penonton, secara kan di solo ini jarang yang bisa pakai logat Batak kan” ujar Izwadi Harahap.

“Selain menjadi strategiku dalam pertunjukan karena tidak bisa ngomong bahasa Jawa, aku merasa lebih bebas untuk menarik isu—isu yang sedang tren di masyarakat yang sesuai dengan lakon yang sedang dipentaskan” ia menambahkan.

Advertisement
Editor : Laila Zakiya
Sumber : Solo Balapan

Artikel Terkait

Cara Hitung Neptu Lahir Jawa: Kamu Termasuk Neptu Tinggi atau Rendah? Cek di Sini!

Cara Hitung Neptu Lahir Jawa: Kamu Termasuk Neptu Tinggi atau Rendah? Cek di Sini!

Panduan praktis cara menghitung neptu lahir Jawa. Pelajari rumus penjumlahan Hari dan Pasaran, kategori neptu rendah hingga tinggi, serta maknanya terhadap pembacaan watak, rezeki, dan kecocokan jodoh pasangan.

Menggoda Selera! 5 Jajanan & Kue Tradisional Khas Jawa yang Unik dan Mulai Langka

Menggoda Selera! 5 Jajanan & Kue Tradisional Khas Jawa yang Unik dan Mulai Langka

Mengenal 5 kue tradisional khas Jawa yang unik dan mulai langka. Simak kelezatan Clorot, Kemplang, Semar Mendem, Grontol Jagung, hingga Krasikan yang kaya aroma alami dan bawa nostalgia masa lalu bagi para pencintanya.

Wayang Beber, Warisan Seni yang Disebut Tersisa Tiga di Dunia: Kisah Kuno yang Hampir Dilupakan

Wayang Beber, Warisan Seni yang Disebut Tersisa Tiga di Dunia: Kisah Kuno yang Hampir Dilupakan

Wayang Beber merupakan pertunjukan wayang yang menggunakan lembaran bergambar yang digulung dan dibuka secara berurutan untuk memperlihatkan adegan cerita.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer