SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM — Di tengah serbuan ayam geprek instan dan menu viral yang silih berganti, sebuah rumah makan di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, justru setia merawat rasa lama yang tak lekang oleh zaman.
Namanya Rumah Makan Ayam Ungkep Kembaran.
Begitu melangkah masuk, aroma tanah liat yang hangat berpadu dengan wangi santan dan rempah yang menguar dari dapur.
Suasananya sengaja ditata tempo dulu: kayu-kayu tua, meja sederhana, dan gelas kaleng motif blirik hijau-putih yang mengingatkan pada dapur nenek di kampung.
Namun bintang sesungguhnya ada di atas meja: Garang Asem Kendil.
Baca Juga: Update Sidang Korupsi Noel Ebenezer, Modus Korupsi Sertifikasi K3 Terbongkar, KPK Cecar Dua Saksi Kunci
Ketika Kendil Menjadi Penjaga Rasa
Garang asem di sini tidak disajikan dalam mangkuk biasa. Ia hadir dalam kendil tanah liat cokelat tua, masih mengepulkan uap panas ketika tutupnya dibuka. Di dalamnya, potongan ayam kampung terendam kuah santan gurih yang berbuih halus—tanda ia baru saja turun dari tungku.
Irisan tomat hijau segar, cabai rawit utuh, dan racikan bumbu khas Sragen menciptakan harmoni rasa: asam yang menggigit lembut, pedas yang menyapa perlahan, dan gurih yang membungkus lidah hingga suapan terakhir.
Kendil bukan sekadar wadah. Ia menjaga suhu, merawat aroma, sekaligus mempertegas identitas hidangan ini sebagai masakan kenduren—hidangan yang dulu akrab di acara selamatan dan perjamuan desa.
Selain garang asem, menu Ayam Ungkep Kenduren juga menjadi primadona. Daging ayam kampungnya empuk berserat, bumbunya meresap hingga ke tulang, menghadirkan rasa yang dalam dan membumi.
Mesin Waktu Bernama Dapur
Berlokasi di Dusun Kembangan, Desa Sidodadi, Masaran, rumah makan ini memang tak berada di pusat kota. Namun justru itu yang membuatnya istimewa. Ia seperti oase rasa di pinggiran, tempat orang sengaja datang untuk “pulang” sejenak ke masa lalu.
Hendro, salah satu pengunjung, menyebut pengalaman makan di sini lebih dari sekadar kenyang.
“Masakan olahan ayamnya nikmat dan menggugah selera. Ada rasa nostalgia,” ujarnya.
Pemilik rumah makan, Ambarwati, yang mengelola usaha ini bersama saudara kembarnya, memang sengaja mengusung konsep lawasan.
“Kita ingin menciptakan menu dari zaman dahulu, kita hadirkan lagi sekarang. Biar orang-orang tidak kangen masakan ayam kenduren,” tuturnya sambil tersenyum.
Konsep jadul itu bukan tempelan. Ia menyatu dalam detail: dari kendil tanah liat, tungku dapur, hingga peralatan makan klasik yang menghidupkan suasana pedesaan tempo dulu.
Rasa Autentik dengan Harga Bersahabat
Di tengah pengalaman rasa yang begitu kaya, harga yang ditawarkan tetap ramah. Menu dibanderol mulai kisaran dua puluhan ribu rupiah hingga sekitar Rp130 ribu untuk paket makan ramai-ramai.
Sebuah harga yang terasa sepadan untuk semangkuk kenangan hangat.
Di Rumah Makan Ayam Ungkep Kembaran, yang disajikan bukan hanya ayam kampung dan kuah santan berbumbu. Ia menyuguhkan cerita, tradisi, dan sepotong masa lalu yang kembali hidup—perlahan, lewat uap panas yang keluar dari mulut kendil. (din/an)