SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Di balik wilayah pelosok yang jauh dari hiruk pikuk kota, tepatnya di Dukuh Bungkus, Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, tersimpan sebuah kehangatan komunal dan warisan kuliner yang mulai jarang ditemui.
Di tapal batas Kabupaten Grobogan itulah hadir Jenjet, penganan sederhana yang sarat memori dan kearifan lokal.
Bagi sebagian besar milenial dan generasi Z, nama Jenjet mungkin terdengar asing. Bahkan warga urban pun banyak yang tak mengenalnya.
Padahal, bagi masyarakat setempat, makanan ini adalah sajian istimewa yang menjadi simbol ketahanan pangan di masa lalu.
Baca Juga: Sama-sama Klaim Jadi Pakubuwono XIV, Ini Kronologi Gegernya KGPH Purbaya dan KGPH Hangabehi
Suradi, tokoh masyarakat Desa Banyurip, menjelaskan bahwa Jenjet bukan sekadar camilan. Ia adalah representasi dari tradisi masyarakat yang menjadikan jagung—bukan beras—sebagai sumber pangan utama.
Sederhana Namun Sarat Makna
Secara tampilan, Jenjet terlihat kusam dengan warna abu-abu kecoklatan. Bentuknya lonjong dan dikepal kecil, pas digenggam dan disantap dalam beberapa gigitan.
Warna gelapnya menjadi penanda bahwa ia terbuat dari jagung tua yang ditumbuk atau digiling halus, bukan dari jagung manis modern.
Jagung hasil gilingan itu kemudian dicampur dengan bumbu dapur sederhana seperti cabai, garam, dan kunyit.
“Bumbunya sederhana saja, biar gurih dan ada pedasnya sedikit,” ujar Suradi.
Adonan yang sudah tercampur kemudian dikepal dan dikukus hingga matang. Hasilnya adalah kudapan bertekstur padat, sedikit seret, namun mengenyangkan. Rasanya gurih dengan sentuhan pedas lembut—cocok sebagai lauk maupun teman bersantai.
“Ini terbuat dari jagung, dikepal-kepal lalu dikukus. Sebenarnya dari sisa penggilingan jagung, warga sini menyebutnya jenjet,” terangnya.
Di masa sekarang, sisa olahan jagung itu lebih sering dipakai sebagai pakan ternak. Namun dulunya, terutama saat krisis pangan, Jenjet menjadi penyelamat masyarakat agar tetap bisa bertahan dan terhindar dari kelaparan.
Baca Juga: Mitos vs Fakta Epilepsi: Dokter Saraf RSUD Soediran Mangun Sumarso Ungkap Gejala, Penyebab, dan Penanganan
Jajanan Tradisi yang Kini Mulai Langka
Sebagai kuliner khas daerah perbatasan Sragen dan Grobogan, Jenjet tumbuh bersama budaya masyarakat setempat. Dahulu, para penjualnya biasa berkeliling dari desa ke desa menjajakan Jenjet dalam wadah sederhana.
“Masyarakat sepuh masih banyak yang membeli. Mereka suka karena sudah terbiasa dari dulu,” kata Suradi.
Namun kini, keberadaan Jenjet makin terancam. Anak-anak muda di desa mulai kurang familiar dengan makanan ini, bahkan banyak yang tidak menyukai rasanya.
Preferensi yang beralih ke kuliner instan dan modern membuat Jenjet semakin mundur dari keseharian warga.
Baca Juga: Waspada! Timnas Indonesia U-23 Bakal Hadapi Mali U-23 yang Diperkuat Pemain Manchester United dan AS Monaco
Warisan Pangan yang Perlu Diselamatkan
Lebih dari sekadar makanan, Jenjet adalah simbol ketahanan pangan lokal. Ia merekam perjalanan sejarah masyarakat pinggiran yang bertahan hidup dari hasil alam, membawa cerita tentang kebersahajaan dan solidaritas desa.
Di tengah derasnya arus modernisasi kuliner, Jenjet menjadi pengingat bahwa kekayaan cita rasa Nusantara tak hanya hadir di kota besar atau dapur restoran.
Ia juga hidup dalam kesunyian desa, menunggu untuk dikenali kembali dan diwariskan pada generasi berikutnya. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto