BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Di balik keelokan Kebun Raya Indrokilo Boyolali, tersimpan sebuah lokasi yang kerap menjadi tujuan warga untuk memanjatkan hajat.
Tempat itu bernama Pertapaan Indrokilo, berlokasi di Jalan Pertapaan, Gunungsari, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo.
Berdiri di atas lahan sekitar 2.500 meter persegi, di dalamnya terdapat sebuah makam yang warga sebut sebagai makam Mbah Reso.
Di sinilah, menurut cerita warga, banyak orang melakukan pertapaan demi menunaikan permintaan khusus.
“Percaya atau tidak, sebagian besar yang datang ke sini pasti permintaannya terkabul,” ujar Pardi Citro Pawiro (75), juru kunci Pertapaan, Jumat (8/8).
Area pertapaan semakin memancarkan aura mistis dengan kehadiran pohon beringin raksasa berusia lebih dari 70 tahun.
Bau dupa dan kemenyan tercium semerbak di sekitar pohon dan makam. Tepat di sisi beringin, berdiri patung Semar setinggi lebih dari 3 meter yang dipenuhi sesaji.
Menurut Pardi, tidak semua pengunjung datang untuk berdoa atau bertapa. Sebagian justru mencari pusaka.
“Dulu ada 12 pemuda dari Ampel datang ke sini. Awalnya saya tidak tahu niatnya apa, tapi setelah selesai baru tahu kalau mereka mengambil pusaka,” tuturnya.
Pardi juga mengungkapkan bahwa makam Mbah Reso diyakini merupakan milik salah satu tokoh partai politik besar di Jawa Tengah pada masanya.
Pertapaan ini berada di ujung kampung, berbatasan dengan aliran sungai dan dikelilingi hutan bambu. Kondisi tersebut membuat suasananya kental dengan nuansa horor.
“Di sini sering terlihat penampakan berseliweran. Namanya juga tempat seperti ini,” tambah Pardi.
Baca Juga: Traveling ke Sragen: Menyelami Tradisi Sedekah Bumi di Gondang Mayang
Tidak hanya warga Boyolali, pengunjung juga datang dari Klaten, Wonogiri, hingga Semarang.
“Orang biasa ada, pejabat juga banyak. Biasanya setiap Jumat malam pasti ada yang datang,” jelasnya.
Di bagian bawah pertapaan, terdapat kolam tua yang sudah tak terawat, penuh daun kering dan lumut. Di sampingnya berdiri tugu batu bertuliskan Sasonomeditasi Indrokilo.
Pardi bercerita, pernah ada seorang warga Semarang bertapa beberapa hari di sana. Saat hendak menunaikan salat, ia mencari keran untuk berwudu dan menemukannya di bawah pohon beringin. Namun, usai salat, keran tersebut lenyap.
“Saya bilang, kemungkinan hajatnya sudah terkabul,” pungkas Pardi. (fid/an)