SOLOBALAPAN.COM – Klaten kembali menghadirkan pesona wisata air yang seru dan menantang melalui aktivitas river tubing di Watu Kapu, sebuah destinasi alam yang terletak di Dusun Wangen III, Desa Wangen, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Resmi dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 2017, Watu Kapu merupakan hasil inisiatif dan pengelolaan warga setempat.
Dengan mengandalkan potensi Sungai Pusur, mereka menciptakan pengalaman berwisata menyusuri arus sungai dengan ban karet khusus yang aman dan nyaman.
Sungai Pusur sebelumnya sempat mengalami pencemaran akibat limbah rumah tangga.
Namun, berkat kerja sama antara komunitas lokal dan dukungan penuh dari pemerintah, sungai ini berhasil direvitalisasi dan kini menjadi salah satu destinasi wisata ramah lingkungan yang menarik dan edukatif.
Selain river tubing, Watu Kapu juga menyediakan tantangan menarik bagi para pengunjung, yakni jump cliff dari tebing dengan ketinggian lebih dari 7 meter.
Bagi yang ingin mencoba, pengelola juga menyediakan peralatan pelindung dan pemandu yang siap membantu.
Fasilitas yang tersedia cukup lengkap, termasuk ban tubing yang sudah didesain khusus, pelampung, helm, warung makan, kamar mandi, ruang ganti, serta gazebo untuk beristirahat.
Dengan harga tiket masuk sebesar Rp 50.000 per orang, pengunjung akan mendapatkan peralatan keselamatan lengkap (safety pack), tour leader (pemandu wisata), dokumentasi (foto/video), transportasi lokal, konsumsi (makanan/minuman).
Watu Kapu buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Menariknya, tempat ini juga mengusung konsep wisata berbasis lingkungan.
Pengunjung yang membawa sampah anorganik layak jual dapat menukarkannya sebagai potongan tiket.
Sampah tersebut akan ditimbang, dan jika bernilai Rp 10.000, maka pengunjung hanya perlu membayar selisih dari harga tiket.
Inovasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan konsep edukatif dan petualangan, Watu Kapu bukan hanya destinasi wisata, tapi juga tempat belajar mencintai dan merawat alam.
(MG7/lz)
Editor : Laila Zakiya